
Banyak orang masuk ke forex dengan satu harapan: cepat profit. Saya juga dulu begitu.
Awal-awal trading, yang dicari selalu strategi “paling akurat”, indikator “paling sakti”, atau setup yang katanya win rate 90%. Tapi makin lama di market, baru sadar satu hal: yang bikin akun bertahan itu bukan strategi rumit, tapi dasar yang dijalankan dengan konsisten.
Forex itu bukan soal siapa paling jago baca chart, tapi siapa paling lama bisa bertahan tanpa menghancurkan modalnya sendiri.
1. Trading Forex Itu Sederhana, Tapi Tidak Mudah
Secara konsep, trading forex itu simpel: beli mata uang saat murah, jual saat mahal, atau sebaliknya.
Kita tidak memegang uang fisik. Kita hanya berspekulasi pada pergerakan harga. Masalahnya, karena market forex buka hampir 24 jam dan pergerakannya cepat, banyak trader merasa “selalu ada peluang”.
Di sinilah jebakannya. Dulu saya sering mikir:
“Kalau market gerak terus, kenapa nggak entry terus?”
Jawabannya baru saya pahami belakangan: market boleh aktif, tapi trader nggak harus selalu ikut campur.
2. Arah Market Itu Pondasi Segalanya
Sebelum bicara entry, indikator, atau setup, satu pertanyaan wajib dijawab:
Market lagi naik, turun, atau datar?
Kedengarannya sepele, tapi ini yang paling sering diabaikan.
- Uptrend → fokus cari buy, jangan maksa sell cuma karena “udah ketinggian”.
- Downtrend → fokus sell, jangan berharap harga “pasti mantul”.
- Sideways → lebih baik sabar, atau kecilkan target dan lot.
Banyak loss terjadi bukan karena setup jelek, tapi karena melawan arah utama market. Saya sendiri baru benar-benar konsisten setelah membiasakan diri melihat timeframe besar dulu (H4 / Daily), baru turun ke timeframe kecil.
3. Lot, Risiko, dan Modal: Ini Bukan Soal Berani atau Tidak
Ini bagian yang paling sering bikin akun habis, terutama pemula.
Dulu saya juga pernah mikir:
“Ah, cuma 0.1 lot, kecil kok.”
Padahal dengan modal kecil, 0.1 lot itu bisa sangat besar. Dasar yang sekarang selalu saya pegang:
- Risiko per posisi maksimal 1–2% dari modal
- Lot ditentukan dari stop loss, bukan sebaliknya
- Stop loss itu alat perlindungan, bukan tanda kalah
Kalau satu loss bikin emosi rusak atau ingin balas dendam, itu tanda lot-nya kebesaran.
4. Overtrade Itu Musuh yang Datangnya Pelan-Pelan
Overtrade jarang terasa berbahaya di awal.
Biasanya dimulai dari hal-hal kecil:
- “Masih ada waktu, coba satu posisi lagi”
- “Tadi loss, masa nggak dibalas?”
- “Chart lagi sepi, tapi kayaknya mau gerak”
Tanpa sadar, satu hari bisa entry berkali-kali tanpa rencana jelas.
Pengalaman pribadi: akun saya mulai stabil justru saat jumlah trade dikurangi, bukan ditambah. Kadang sehari cuma satu entry, bahkan tidak entry sama sekali. Dan itu normal.
Trading bukan soal seberapa sering klik, tapi seberapa tepat waktunya.
5. Jangan Kejar Profit, Kejar Prosesnya
Pertanyaan yang sering saya dapat:
“Target sebulan idealnya berapa persen?”
Jawaban jujurnya: itu bukan pertanyaan paling penting.
Yang jauh lebih penting:
- Apakah risk per trade konsisten?
- Apakah entry sesuai plan?
- Apakah loss masih bisa diterima tanpa stres?
Trader yang fokus ke proses biasanya profitnya datang pelan-pelan tapi tahan lama. Trader yang fokus ke angka besar biasanya cepat panas, cepat overtrade, dan cepat habis.
Kesimpulan
Dasar trading forex itu sebenarnya tidak rumit, tapi sering diremehkan:
- tahu arah market
- disiplin manajemen risiko
- tidak overtrade
- fokus ke proses, bukan sensasi profit cepat
Kalau dasar ini kuat, strategi apa pun jadi lebih masuk akal. Forex bukan lomba sprint. Ini permainan jangka panjang buat yang sabar dan konsisten.
Kalau kamu masih di tahap belajar, itu bukan kelemahan, itu justru modal terbaik, asal mau pelan dan rapi.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

-KẾT THÚC-