
Pada hari Senin (19/1), nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp16.906 per dolar AS, menurun sekitar 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal, termasuk kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) serta ketegangan geopolitik terkait Greenland.
Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa meskipun dolar AS mengalami pelemahan, rupiah tetap berisiko bergejolak terhadap mata uang AS. Namun, ada potensi penguatan yang terbatas.
“Investor saat ini tengah mengantisipasi dampak dari kemungkinan tarif baru yang diterapkan AS terhadap negara-negara yang menentang rencana AS untuk menguasai Greenland,” ungkap Lukman.
Menurutnya, dalam beberapa hari mendatang, rupiah diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Selain itu, pergerakan mata uang di kawasan Asia cenderung bervariasi. Peso Filipina melemah 0,06 persen, won Korea Selatan turun 0,04 persen, yen Jepang menurun tipis 0,01 persen, dan baht Thailand turun 0,12 persen. Di sisi lain, dolar Singapura menguat 0,2 persen.
Untuk mata uang negara maju, mayoritas menunjukkan penguatan. Poundsterling Inggris naik 0,07 persen, euro Eropa menguat 0,20 persen, franc Swiss naik 0,01 persen, dolar Kanada menguat 0,12 persen, dan dolar Australia juga naik tipis 0,02 persen.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

-KẾT THÚC-