Rupiah-IHSG Pisah Arah, Adakah Risiko yang Harus Diwaspadai?

avatar
· Views 367

Rupiah-IHSG Pisah Arah, Adakah Risiko yang Harus Diwaspadai?

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terlihat berbeda arah belakangan ini. Sementara IHSG terus mencatatkan penguatan bahkan menembus rekor tertinggi, rupiah justru mengalami pelemahan yang signifikan terhadap dolar AS. Pada Senin (19/1), nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp16.960 per dolar AS, dengan penurunan 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, IHSG malah mencetak rekor baru di level 9.133 pada hari yang sama.

Apa yang Menyebabkan Perbedaan Arah Rupiah dan IHSG?

Menurut pengamat pasar Ibrahim Assuaibi, perbedaan pergerakan antara IHSG dan rupiah ini bisa dipahami jika kita melihat faktor penyebab masing-masing. IHSG, yang mencerminkan kinerja emiten domestik, bergerak positif karena investor optimis terhadap prospek perusahaan dan pertumbuhan laba di pasar modal.

Di sisi lain, rupiah lebih sensitif terhadap dinamika global, seperti penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan faktor eksternal lainnya. Kondisi internal Indonesia, seperti defisit anggaran yang hampir mencapai batas maksimal 3 persen dari PDB, juga berkontribusi pada pelemahan rupiah.

“Aliran dana ke saham tidak selalu berarti permintaan rupiah yang kuat. Pasar saham melihat pertumbuhan, sementara pasar valuta asing (valas) melihat risiko global dan likuiditas. Karena itu, kedua pasar bisa bergerak berlawanan arah,” ujar Ibrahim.

Dampak Terhadap Ekonomi

Secara langsung, pergerakan rupiah lebih berpengaruh pada perekonomian riil dibandingkan IHSG. Pelemahan rupiah akan memengaruhi harga barang impor, biaya energi, dan pangan, serta meningkatkan tekanan inflasi. Di sisi lain, meskipun IHSG mencatatkan rekor tinggi, hal ini tidak otomatis mencerminkan stabilitas ekonomi yang solid, karena penguatan pasar saham lebih berfokus pada sektor keuangan.

Yusuf Rendy Manilet, peneliti dari CORE Indonesia, menambahkan bahwa meski IHSG menguat, jika rupiah terus tertekan, maka daya beli masyarakat bisa tergerus. Kenaikan biaya usaha dan inflasi akibat pelemahan rupiah akan mempengaruhi ekonomi riil, meskipun pasar saham terlihat menggembirakan.

Strategi Menghadapi Ketidaksesuaian IHSG dan Rupiah

Ronny Sasmita, analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, mengatakan ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh masyarakat dan investor dalam menghadapi situasi ini. Pertama, disiplin dalam manajemen risiko keuangan pribadi sangat penting. Kedua, diversifikasi portofolio investasi menjadi kunci untuk mengurangi potensi kerugian akibat ketidakselarasan antara IHSG dan rupiah.

"Bagi investor, meskipun IHSG sedang menguat, tetap fokus pada fundamental, terutama di sektor-sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah, seperti komoditas dan eksportir," jelas Ronny.

Selain itu, masyarakat juga harus memperhatikan potensi risiko inflasi yang bisa meningkat dalam beberapa bulan ke depan, akibat dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan dan energi. Oleh karena itu, perencanaan anggaran rumah tangga perlu dilakukan dengan lebih konservatif dan antisipatif.

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest