
Harga minyak melanjutkan penguatan setelah mencetak penutupan tertinggi sejak Agustus 2022, saat pasar menilai risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan menyusul pernyataan Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap “efektif tertutup”. Dalam perdagangan Asia, West Texas Intermediate (WTI) bergerak sedikit lebih tinggi di sekitar US$97 per barel, setelah melonjak sekitar 10% pada Kamis. Brent ditutup di atas US$100.
Sentimen pasar didorong oleh eskalasi risiko logistik dan keamanan di jalur pelayaran yang krusial bagi pengiriman minyak dan gas. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, menyatakan Republik Islam akan berupaya memastikan jalur tersebut tetap tertutup. Otoritas Inggris menilai Iran kemungkinan telah mulai menebar ranjau, meningkatkan risiko bagi kapal-kapal yang mempertimbangkan melintas.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, arus kapal dilaporkan menyusut tajam hingga tinggal “seperti tetesan”, termasuk kapal tanker Iran yang membawa minyak. Di saat yang sama, International Energy Agency (IEA) pada Kamis memperingatkan gangguan pasokan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Sehari sebelumnya, para anggota IEA menyepakati pelepasan cadangan darurat dalam skala besar untuk meredam kenaikan harga.
Upaya mitigasi dari AS masih dinilai terbatas dalam waktu dekat. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal tanker melalui Hormuz pada akhir bulan, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent kepada Sky News menyebut pengawalan bisa dilakukan “segera setelah memungkinkan secara militer.” Namun, risiko di lapangan dinilai tetap tinggi. Aaron Stein dari Foreign Policy Research Institute menilai pembersihan ranjau saat pertempuran aktif tidak bisa dilakukan tanpa risiko besar, dan opsi yang tersedia tidak serta-merta memulihkan kepercayaan pelayaran internasional.
Pergerakan harga juga dibentuk oleh volatilitas ekstrem. WTI disebut bergerak dalam rentang sekitar US$43 pekan ini, rentang terlebar sejak periode terdalam pandemi saat harga sempat berbalik negatif. Brent berayun dalam kisaran sekitar US$38. Fluktuasi tajam diperparah oleh arus finansial dari pasar opsi hingga produk ETF, membuat respons harga terhadap berita geopolitik menjadi lebih cepat dan lebih besar.
Dari sisi kebijakan, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan menjadi ancaman di Timur Tengah lebih penting baginya ketimbang biaya minyak, memperkuat persepsi bahwa pasar tidak akan segera mendapat “bantalan” verbal dari Washington.
WTI untuk pengiriman April dilaporkan naik 1,0% menjadi US$96,73 per barel pada pukul 07.54 di Singapura. Brent untuk penyelesaian Mei ditutup naik 9,2% pada Kamis di US$100,46 per barel. Ke depan, pelaku pasar akan memantau perubahan status operasional Selat Hormuz, indikasi ranjau dan keamanan pelayaran, realisasi pelepasan cadangan darurat, serta sinyal pengawalan laut dan intensitas konflik yang membentuk premi risiko pasokan.(aasd)
Sumber: Newsmaker.id
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

-KẾT THÚC-