OPEC+ Tunda Kenaikan Output hingga Kuartal I-2026, Minyak Terangkat

avatar
· Views 31
  • Harga minyak menguat setelah OPEC + memutuskan menunda rencana kenaikan produksi pada kuartal I-2026, meredakan kekhawatiran kelebihan pasokan.
  • Brent naik 0,54% ke USD65,12 per barel dan WTI menguat 0,59% ke USD61,33 per barel, ditopang sikap hati-hati OPEC + terhadap ketidakpastian pasokan dan permintaan.
  • Ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan drone Ukraina ke pelabuhan minyak Rusia, sementara produksi minyak AS mencapai rekor baru 13,8 juta barel per hari.

Ipotnews - Harga minyak menguat, Senin pagi, setelah OPEC + memutuskan untuk menunda rencana kenaikan output pada kuartal pertama tahun depan. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan (supply glut) yang sempat menekan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 35 sen atau 0,54% menjadi USD65,12 per barel pada pukul 06.17 WIB, setelah ditutup menguat 7 sen pada sesi sebelumnya, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Singapura, Senin (3/11).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), bertambah 35 sen atau 0,59% ke posisi USD61,33 per barel, setelah sebelumnya meningkat 41 sen pada perdagangan Jumat.
Dalam pertemuan yang digelar Minggu (5/10), Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya ( OPEC +) sepakat untuk menaikkan produksi 137.000 barel per hari (bph) pada Desember 2025, sama seperti peningkatan yang dijadwalkan untuk Oktober dan November.
"Melihat kondisi musiman, delapan negara anggota juga memutuskan untuk menghentikan penambahan produksi pada Januari, Februari, dan Maret 2026," tulis OPEC + dalam pernyataannya.
Analis RBC Capital, Helima Croft, menilai keputusan OPEC + untuk menahan diri mencerminkan sikap hati-hati terhadap ketidakpastian pasokan pada kuartal pertama tahun depan dan potensi pelemahan permintaan.
"Terdapat alasan kuat bagi OPEC + untuk berhati-hati mengingat ketidakpastian pasokan di awal tahun dan proyeksi permintaan yang cenderung melemah," ujar Croft.
Dia menambahkan, Rusia tetap menjadi faktor risiko utama dalam pasokan global setelah Amerika menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, serta meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
Kemarin, sebuah serangan drone Ukraina menghantam pelabuhan Tuapse di Laut Hitam, salah satu pelabuhan ekspor minyak utama Rusia, menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada sedikitnya satu kapal.
Sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat jatuh lebih dari 2% selama tiga bulan berturut-turut hingga Oktober, dan menyentuh level terendah lima bulan pada 20 Oktober akibat kekhawatiran kelebihan pasokan serta dampak ekonomi dari kebijakan tarif baru Amerika Serikat.
Meski begitu, survei  Reuters  menunjukkan sebagian besar analis masih mempertahankan proyeksi harga minyak, dengan kenaikan output OPEC + dan lemahnya permintaan diperkirakan menyeimbangkan risiko geopolitik terhadap pasokan. Estimasi surplus pasar minyak berkisar antara 190.000 hingga 3 juta bph.
Sementara itu, Badan Informasi Energi (EIA) Amerika, melaporkan pada Jumat bahwa produksi minyak mentah AS naik 86.000 bph menjadi rekor 13,8 juta bph pada Agustus.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump membantah laporan pemerintahannya tengah mempertimbangkan serangan ke wilayah Venezuela, di tengah meningkatnya spekulasi Washington akan memperluas operasi terkait pemberantasan perdagangan narkotika di kawasan tersebut. (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest