Dolar Berkibar di Tengah Kekhawatiran Ekonomi Global dan Asa Akhir Government Shutdown

avatar
· Views 19
  • Indeks DXY menguat 0,2% ke 99,740 di awal perdagangan Asia, didukung optimisme atas kemajuan pembahasan bipartisan di Senat untuk mengakhiri government shutdown.
  • Data sentimen konsumen AS yang melemah ke level terendah dalam 3,5 tahun menambah kekhawatiran pertumbuhan global, sementara pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga the Fed 25 bps pada 10 Desember mencapai 67%.
  • Yen melemah ke 153,82 per dolar setelah Jepang melonggarkan target fiskal, sedangkan euro turun 0,1% ke USD1,155 dan pound menyusut 0,2% ke USD1,314.

Ipotnews - Dolar AS menguat di awal perdagangan Asia, Senin, setelah serangkaian data ekonomi yang lemah menimbulkan kekhawatiran baru terhadap pertumbuhan global. Namun, tanda-tanda bahwa Kongres Amerika Serikat semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintahan federal (government shutdown) menahan kenaikan permintaan terhadap aset aman.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,2 persen ke posisi 99,740, memutuskan tren penurunan tiga hari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring pelemahan yen dan euro terhadap dolar, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Senin (10/11).
Pemimpin Mayoritas Senat AS, John Thune, menyatakan pembicaraan bipartisan di Senat untuk mengakhiri government shutdown menunjukkan perkembangan positif. Senat AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Minggu malam waktu setempat untuk membuka kembali pemerintahan federal dengan pendanaan sementara hingga Januari.
"Kesepakatan ini datang tepat pada waktunya," ujar Tony Sycamore, analis IG Sydney. "Pelemahan dolar AS yang terjadi akhir pekan lalu kemungkinan akan berlanjut sementara waktu."
Jumat, indeks sentimen konsumen Universitas Michigan melemah ke level terendah dalam hampir tiga setengah tahun pada awal November, mendekati titik nadir sepanjang masa, seiring berlarutnya penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika.
"Data kepercayaan konsumen itu sangat mengejutkan dan menjadi bukti nyata bahwa penutupan pemerintahan telah memengaruhi rumah tangga. Prospek berakhirnya shutdown ini setidaknya dapat mengurangi kerusakan yang telah terjadi," tambah Sycamore.
Terhadap yen Jepang, dolar diperdagangkan di posisi 153,82 yen, naik 0,3 persen dibanding level penutupan sebelumnya di Amerika. Kenaikan ini dipicu pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, akhir pekan lalu, bahwa pemerintahnya akan meninggalkan target fiskal tahunan dan menggantinya dengan target jangka menengah yang menilai pengeluaran selama beberapa tahun. Langkah tersebut dianggap melemahkan komitmen Jepang terhadap konsolidasi fiskal.
Dalam ringkasan pandangan yang dirilis Senin, Bank of Japan menyebut bahwa "kabut yang menyelimuti prospek ekonomi Jepang mulai menghilang dibandingkan situasi pada Juli."
Pelaku pasar kini menilai dampak kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya memicu lonjakan produksi menjelang tenggat penerapan tarif impor. Data akhir pekan menunjukkan inflasi harga konsumen China meningkat lebih cepat dari perkiraan, sementara ekspor negara itu mencatat penurunan terbesar sejak Februari.
"Kami memperkirakan perlambatan baru dalam pertumbuhan ekonomi Asia sekarang setelah dorongan ekspor pra-tarif sebagian besar telah berakhir," tulis Eric Robertsen, Kepala Riset Global Standard Chartered Bank. "Dengan siklus pemangkasan suku bunga di kawasan yang hampir selesai, arus masuk dana ke aset lokal kemungkinan akan melambat."
Robertsen menambahkan, "Ada risiko bahwa likuiditas global yang melimpah, yang selama ini menopang aset dunia sepanjang 2025, akan menjadi kurang mendukung pada 2026. Hal ini bisa menjadi sinyal potensi penguatan dolar AS lebih lanjut dalam 12 bulan ke depan."
Perdagangan Fed funds futures memperlihatkan probabilitas 67 persen bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 10 Desember, tidak berubah dari level akhir pekan lalu, menurut FedWatch Tool CME Group.
Euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,155, sementara poundsterling diperdagangkan USD1,314, atau turun 0,2 persen. Yuan offshore stabil di posisi 7,1261 per dolar AS pada awal perdagangan Asia.
Dolar Australia menguat tipis 0,1 persen ke USD0,6502, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,1 persen menjadi USD0,56265. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest