- Harga CPO melonjak 1,58% ke 4.177 ringgit per ton, didukung penguatan soyoil Chicago, meski ekspor November melemah dan cuaca buruk mengancam.
- Cuaca monsun timur laut diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026, berisiko menyebabkan banjir di wilayah timur Semenanjung, Sabah, dan Sarawak.
- Penguatan ringgit dan penurunan ekspor 9,5-12,3% menekan pasar, sementara analis memperkirakan harga akan menguji resistance di kisaran 4.174-4.196 ringgit.
Ipotnews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia kembali menguat, Selasa, menandai kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Kenaikan ini dipicu penguatan harga minyak kedelai Chicago, meski kekhawatiran akan cuaca buruk dan lemahnya data ekspor awal November menekan pasar.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melesat 65 ringgit, atau sekitar 1,58 persen, menjadi 4.177 ringgit (USD988,87) per metrik ton pada jeda perdagangan tengah hari, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Selasa (11/11).
Menurut Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, tren kenaikan harga minyak kedelai (soyoil) Chicago membantu menopang pasar CPO. Namun, pelaku pasar juga melakukan penyesuaian posisi menjelang peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan otoritas.
Dia menambahkan, pelemahan ekspor awal November serta penguatan nilai tukar ringgit menjadi tantangan tambahan bagi pasar.
Departemen Meteorologi Malaysia memperingatkan musim angin timur laut diperkirakan tiba pada Kamis dan berlangsung hingga Maret 2026, mencakup wilayah pantai timur Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak. Hujan berkepanjangan berpotensi menyebabkan banjir di daerah rendah dan sekitar aliran sungai.
Data dari lembaga survei kargo menunjukkan ekspor produk CPO Malaysia untuk periode 1-10 November merosot antara 9,5 persen hingga 12,3 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Di bursa Dalian, kontrak paling aktif minyak kedelai naik 0,78 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 1,34 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga menguat 0,32 persen.
Pergerakan harga CPO umumnya mengikuti tren minyak pesaingnya karena berkompetisi di pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, nilai tukar ringgit--mata uang utama perdagangan minyak sawit--menguat 0,22 persen terhadap dolar AS, membuat komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Harga minyak mentah terpantau turun pada awal perdagangan Asia, menghapus sebagian kenaikan sesi sebelumnya karena kekhawatiran kelebihan pasokan menutupi optimisme akan potensi penyelesaian penutupan pemerintahan Amerika Serikat.
Pelemahan harga minyak mentah ini membuat CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan CPO akan kembali menguji level resistance di 4.152 ringgit per metrik ton. Jika berhasil menembus level tersebut, harga berpotensi naik ke kisaran 4.174-4.196 ringgit per metrik ton. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ