- Rupiah turun 0,36% ke Rp16.727 per dolar AS, di tengah ketidakpastian jadwal rilis inflasi dan arah kebijakan The Fed.
- BI prakirakan pertumbuhan 2026 sebesar 5,33%, berpotensi naik ke 5,4% bila belanja fiskal dipercepat.
- Pasar global waspada, mencermati pelemahan tenaga kerja AS, risiko fiskal, dan pidato pejabat The Fed malam ini.
Rupiah melemah ke Rp16.727 per dolar AS pada perdagangan Rabu siang menjelang sesi Eropa, turun sekitar 0,36% dari penutupan sebelumnya di Rp16.666. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sempat tertahan di awal pekan, seiring pasar global menahan langkah menjelang kemungkinan rilis data inflasi AS yang masih belum pasti setelah pembukaan kembali pemerintahan federal. Di saat bersamaan, sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan berbicara dalam dua hari ke depan, menambah kehati-hatian pelaku pasar sebelum ada arah yang lebih jelas terkait prospek suku bunga.
Dalam perdagangan harian, rupiah bergerak di rentang Rp16.678-Rp16.731, menunjukkan volatilitas yang masih terkendali meski kecenderungan depresiatif mendominasi sesi Asia. Dari sisi teknis, rupiah masih bertahan di atas area psikologis Rp16.700, melemah di tengah dolar AS yang tetap kukuh meski imbal hasil Treasury AS turun tipis. Penurunan yield tersebut merefleksikan ekspektasi pasar bahwa The Fed mungkin mulai melonggarkan kebijakan pada 2026. Di pasar global, Indeks Dolar (DXY) stabil di kisaran 99,5 setelah terkoreksi dari puncak 100,36, menandakan pasar tengah mencari pijakan baru sebelum data ekonomi berikutnya dirilis.
Secara tahunan, rupiah telah melemah sekitar 6,04%, dan secara bulanan turun 1,07% dibanding periode sebelumnya. Stabilitas makro domestik masih menjadi penyangga utama, namun arus ketidakpastian global dan kekuatan dolar terus menekan ruang apresiasi mata uang Garuda.
BI Proyeksikan Pertumbuhan 2026 di 5,33%, Konsumsi Tetap Jadi Penopang Domestik
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rencana Anggaran Tahunan (RATBI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,33%, dengan potensi mencapai 5,4% apabila belanja fiskal pemerintah dipercepat, ujar Gubernur Perry Warjiyo dalam rapat bersama DPR. Ia menambahkan, inflasi 2026 diprakirakan 2,62%, sementara nilai tukar rupiah rata-rata di kisaran Rp16.430 per dolar AS – sedikit lebih lemah dibanding target ATBI 2025 di Rp15.285, namun masih sejalan dengan tren stabilitas kurs tahun berjalan. BI juga menargetkan pertumbuhan kredit 8-12%, naik tipis dari kisaran tahun ini, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membawa pertumbuhan ekonomi ke 8% pada 2029.
Sementara itu, data ekonomi domestik yang dirilis pada Selasa 11 November, menunjukkan pemulihan yang tidak merata antar sektor. Penjualan mobil Oktober masih terkontraksi -4,4% YoY, tetapi membaik signifikan dari -15,1% YoY pada bulan sebelumnya, mengindikasikan tekanan daya beli mulai mereda. Di sisi lain, penjualan ritel September tumbuh 3,7% YoY, sedikit di atas 3,5% YoY pada bulan sebelumnya, menegaskan ketahanan konsumsi rumah tangga di tengah inflasi yang stabil dan pasar tenaga kerja yang kuat.
Pelemahan Tenaga Kerja dan Risiko Fiskal AS Kembali Uji Ketahanan Sentimen Pasar
Sinyal pelemahan ekonomi semakin terlihat dari Amerika Serikat, di mana pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Data ADP menunjukkan pemberi kerja swasta mengurangi rata-rata 11.250 posisi per minggu hingga 25 Oktober, mencerminkan perlambatan perekrutan di paruh kedua bulan itu. Kepala ekonom ADP, Nela Richardson, menilai pasar tenaga kerja kini “kehabisan tenaga” menghadapi permintaan yang menurun dan pasokan tenaga kerja yang semakin terbatas.
Tak jauh dari isu tenaga kerja, bidang fiskal juga menyita perhatian pasar. Pembukaan kembali pemerintahan AS memberi napas pendek bagi optimisme, setelah Senat meloloskan pemungutan suara 60-40 untuk mengakhiri penutupan terpanjang sejak 1 Oktober – hasil kompromi bipartisan antara sebagian Demokrat dan Republik. Meski demikian, RUU pendanaan hanya berlaku hingga 30 Januari, meninggalkan bayangan risiko penutupan berikutnya bila kesepakatan jangka panjang tak tercapai. Dengan utang nasional telah menembus USD 38 triliun, setiap keputusan belanja publik kini menjadi perdebatan sensitif di Washington, sementara DPR dijadwalkan menggelar pemungutan suara akhir pada Rabu sore waktu setempat.
Sinyal Berlapis dari Beijing dan Antisipasi Pasar Jelang Pidato Pejabat The Fed
Beranjak ke Asia, Beijing turut mencuri perhatian dengan sinyal kebijakan yang berlapis. Di satu sisi, pemerintah Tiongkok membuka akses pasar lebih luas bagi perusahaan AS dan menghapus biaya pelabuhan khusus untuk kapal berbendera Amerika selama satu tahun – langkah yang dibaca sebagai isyarat rekonsiliasi perdagangan. Namun di sisi lain, laporan Wall Street Journal menyebut Beijing tengah menyiapkan aturan ekspor baru untuk magnet tanah jarang, yang hanya memperbolehkan pengiriman kepada pembeli sipil dan membatasi ekspor ke perusahaan AS yang terkait sektor pertahanan.
Kombinasi antara perlambatan tenaga kerja, risiko fiskal, dan tensi dagang Asia membuat pasar global bergerak lebih hati-hati. Pelaku pasar kini menakar: apakah perlambatan ini sekadar jeda sementara sebelum siklus pemulihan berikutnya, atau justru awal dari fase pendinginan ekonomi yang lebih panjang.
Menambah ketegangan menjelang akhir pekan, pasar akan menyoroti pidato sejumlah pejabat The Fed malam ini, termasuk Williams, Waller, dan Bostic. Pernyataan mereka dipandang dapat memberikan arah baru bagi ekspektasi kebijakan moneter, terlebih di tengah ketidakpastian jadwal rilis data inflasi AS. Nada yang lebih dovish bisa memperkuat keyakinan pasar bahwa penurunan suku bunga mungkin terjadi pada 2026, sementara sikap lebih hawkish berpotensi menghidupkan kembali permintaan dolar AS dan membatasi ruang penguatan mata uang regional, termasuk rupiah.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Được in lại từ FXStreet_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ