- Harga CPO naik berkat aksi beli dan kekhawatiran produksi akibat hujan lebat serta banjir.
- Produksi diperkirakan turun hingga awal 2026 seiring monsun yang makin intens.
- Penguatan ringgit dan tekanan dari minyak nabati lain dapat mendorong harga turun ke kisaran 3.991-4.034 ringgit.
Ipotnews - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia kembali menguat, Senin, setelah pada sesi sebelumnya jatuh ke level terendah dalam 21 pekan. Kenaikan ini didorong aksi beli saat harga melemah (bargain buying) serta kekhawatiran terhadap produksi, yang mampu menahan tekanan dari penguatan ringgit.
Kontrak acuan pengiriman Februari di the Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 14 ringgit atau 0,34% menjadi 4.083 ringgit (USD986,23) per ton saat jeda tengah hari, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Senin (24/11).
Pada sesi Jumat, kontrak tersebut merosot 2% ke posisi 4.069 ringgit, penutupan terendah sejak 4 Juli.
"Setelah aksi jual Jumat, harga mendapatkan minat beli di level bawah, terutama setelah terlihatnya dampak curah hujan yang cukup parah," ujar Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, perusahaan pialang yang berbasis di Selangor.
Menurut dia, laporan banjir di sejumlah negara bagian membantu menopang harga, sementara produksi diperkirakan menurun secara bertahap mulai Desember hingga kuartal pertama 2026.
"Dampaknya memang tertunda, namun segera pengaruh monsun akan terasa lebih kuat, terutama ketika daerah penghasil utama mulai menerima curah hujan lebih intens," tambahnya.
Badan bencana nasional Malaysia melaporkan lebih dari 11.000 warga di tujuh negara bagian terdampak banjir akibat hujan deras berkelanjutan.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian turun 0,24%, sementara kontrak minyak sawitnya melorot 1,18%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat 0,32%. Harga CPO biasanya mengikuti pergerakan minyak pesaing lain karena berkompetisi di pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Ringgit--mata uang transaksi utama CPO--menguat 0,14% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli berdenominasi mata uang asing.
Secara teknikal, harga CPO berpotensi turun lebih jauh ke kisaran 3.991 hingga 4.034 ringgit per ton, didorong pola wave (5), menurut analis teknikal Reuters, Wang Tao. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ