- Minyak diprediksi jadi penentu arah mata uang global, dengan harga yang lebih murah berpotensi memukul dolar dan mendorong saham.
- Brent sempat anjlok dari USD82 ke USD58,50, dan potensi kejatuhan lebih dalam hingga USD42,33 tetap ada meski produksi dibatasi.
- Penurunan harga minyak mendukung apresiasi euro, pound, yen, franc Swiss, serta mata uang emerging seperti rupiah, rupee, lira, dan peso.
Ipotnews - Minyak diprediksi menjadi faktor kunci arah pergerakan mata uang global pada 2026, setelah tahun ini nilai tukar banyak dipengaruhi kejatuhan komoditas tersebut, dan kemungkinan akan didorong harga minyak yang lebih murah.
Harga minyak mentah berjangka Brent, yang dibuka sekitar USD82 per barel pada awal tahun, tersungkur ke USD58,50 per barel setelah produsen mulai meningkatkan output pada April, ungkap Jeremy Boulton, analis pasar Reuters.
"Saat ini, meski kenaikan output sempat dihentikan, harga minyak tetap bergerak lemah di sekitar USD63 per barel," kata Boulton, seperti dilansir Reuters, Kamis (27/11).
Produsen minyak, khawatir terjadi kelebihan pasokan, memilih untuk tidak menambah output lebih lanjut. Surplus yang ada, tutur Boulton, berpotensi menekan harga minyak secara signifikan di bawah USD63,02, yang merupakan 61,8% dari kenaikan harga dari level terendah USD15,98 per barel pada April 2020, saat pandemi Covid, ke puncak USD139,13 pada Maret 2022.
Meski harga minyak sempat terjerembab di bawah level tersebut pada April, penurunan itu tidak bertahan lama. Lonjakan harga kembali terjadi akibat konflik di Timur Tengah.
"Namun, meski terjadi perang dan pemotongan produksi yang berkelanjutan, harga minyak tetap melemah. Sinyal jual jangka panjang--jika rata-rata 21 hari (21-MMA) turun di bawah rata-rata 100 hari (100-MMA)--dapat memicu kejatuhan lebih dalam," ucapnya.
Potensi kejatuhan harga minyak bahkan bisa mencapai USD42,33 per barel, level koreksi 78,6% dari lonjakan harga 2020-2022. Meski terlihat jauh, penurunan di bawah level terendah tahun ini tetap memungkinkan, walau produksi dibatasi.
Minyak yang lebih murah diprediksi meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve lebih dalam dibanding ekspektasi saat ini, dengan proyeksi terbaru menunjukkan kemungkinan turun di bawah 3%.
Kondisi ini diperkirakan melemahkan dolar, sekaligus memberi stimulus tambahan bagi pasar saham, mendorong trader mata uang untuk mengambil posisi jual dolar atau membiayai carry trade yang berkembang pesat selama booming pasar ekuitas tahun ini.
Penurunan harga minyak juga diperkirakan mendukung penguatan mata uang utama lainnya, termasuk poundsterling, euro, franc Swiss, dan yen Jepang.
"Selain itu, mata uang yang melemah tahun ini, seperti rupee India, lira Turki, rupiah dan peso Filipina, juga berpotensi mendapatkan dorongan dari tren minyak yang lebih murah," tutur Boulton. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ