CPO Naik Tipis, Ketidakpastian Produksi Akibat Cuaca Ekstrim Topang Harga

avatar
· Views 337
  • Harga CPO naik karena ketidakpastian produksi akibat cuaca ekstrem, meski terbebani turunnya ekspor dan stagnannya harga soyoil Chicago.
  • Badai tropis di Indonesia, Malaysia, dan Thailand memicu kerusakan dan gangguan produksi, sementara ekspor CPO Malaysia anjlok 19,7%.
  • Meski menguat empat sesi beruntun, harga berpotensi terkoreksi karena resistensi teknikal, dengan tren bulanan masih melemah tiga bulan beruntun.

Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia menguat untuk sesi keempat berturut-turut, Senin, didorong ketidakpastian produksi akibat hujan lebat di negara produsen utama, Indonesia dan Malaysia. Namun, lemahnya data ekspor serta stagnannya harga minyak kedelai Chicago membatasi kenaikan CPO.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 5 ringgit atau 0,12% menjadi 4.119 ringgit (USD996) per ton pada jeda tengah hari, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 21 November, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Senin (1/12).
Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan harga CPO di Bursa Malaysia bergerak dua arah akibat penurunan tajam ekspor minyak sawit Malaysia serta ketidakpastian kondisi produksi.
Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami kerusakan besar setelah badai tropis langka terbentuk di Selat Malaka yang memicu hujan deras dan angin kencang selama sepekan.
Tim penyelamat di ketiga negara Asia Tenggara tersebut masih berupaya mencapai banyak wilayah terdampak banjir pada Minggu, meski air mulai surut dan puluhan ribu warga telah dievakuasi.
Intertek Testing Services melaporkan ekspor produk CPO Malaysia sepanjang November anjlok 19,7% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat ekspor minyak sawit mentah dan olahan Indonesia mencapai 19,49 juta ton pada periode Januari-Oktober, melesat 7,83% secara volume dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontrak minyak sawit Malaysia menguat 1,1% pekan lalu, tetapi melorot 2,78% sepanjang November, menandai penurunan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.
Di bursa komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif Dalian naik 0,63 persen, sementara kontrak minyak sawitnya meningkat 0,75 persen. Harga soyoil di Chicago Board of Trade tercatat tidak berubah.
Harga CPO kerap mengikuti pergerakan minyak pesaing karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk Desember sebesar USD926,14 per ton, turun dari UD963,75 per ton pada November, berdasarkan regulasi Kementerian Perdagangan.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan minyak sawit berpotensi terkoreksi ke 4.084 ringgit per ton karena menghadapi resistance di level 4.157 ringgit. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest