- Rupiah melemah ke Rp16.695 per dolar AS (-47 poin, -0,28%) akibat sikap hati-hati pejabat The Fed terkait peluang pemangkasan suku bunga Desember 2025, membuat investor menahan posisi.
- Sentimen global bercampur, ekspektasi pemangkasan suku bunga masih kuat namun diimbangi kehati-hatian The Fed dan ketidakpastian geopolitik (Ukraina-Rusia, tensi AS-Venezuela) yang meningkatkan minat aset safe haven.
- Domestik tetap solid, PMI manufaktur 53,3 dan inflasi 2,7% menunjukkan ekonomi tangguh; BI dorong sektor riil lewat mandat UU P2SK, mendukung prospek pertumbuhan lebih baik pada 2026.
Ipotnews - Kurs rupiah kembali tertekan pada awal pekan, dipicu sikap hati-hati sejumlah pejabat Federal Reserve terkait peluang pemangkasan suku bunga pada Desember 2025.
Mengutip data Bloomberg, Senin (8/12) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp16.695 per dolar AS, melemah 47 poin atau 0,28% dibandingkan penutupan Jumat (5/12) di Rp16.648 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah ekspektasi pasar yang sebelumnya cukup optimistis terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Namun, kehati-hatian dari pejabat bank sentral AS membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi.
"Optimisme tersebut diredam oleh kehati-hatian karena beberapa pejabat Fed mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga pada bulan Desember masih jauh dari pasti. Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya menekankan bahwa keputusan yang akan datang bukanlah suatu kepastian, jauh dari itu. Itu membuat investor waspada terhadap potensi kejutan yang bersifat hawkish," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Dari sisi eksternal, pasar global juga mencermati dinamika geopolitik yang belum mereda. Negosiasi damai Ukraina masih berjalan lambat, sementara ketegangan antara AS dan Venezuela meningkat seiring pengetatan pengawasan terhadap aktivitas ekspor negara anggota OPEC tersebut. Ketidakpastian ini menambah dorongan terhadap aset safe haven serta membatasi ruang penguatan mata uang emerging market.
Sementara itu, faktor domestik menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menahan tekanan eksternal. PMI manufaktur pada November tercatat tetap ekspansif di level 53,3, dengan inflasi stabil di 2,7%. Indeks keyakinan konsumen juga berada pada posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir, mencerminkan daya beli yang terjaga menjelang 2026.
Pemerintah dan Bank Indonesia dinilai menjaga momentum melalui kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif sepanjang 2025. Implementasi UU P2SK memberi mandat tambahan bagi BI memperkuat sektor riil.
"Bank Indonesia mendapat mandat baru untuk memperkuat sektor riil lewat sejumlah kebijakan. Draf Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) memberi mandat kepada Bank Indonesia (BI) untuk meracik bauran kebijakan yang mampu menciptakan iklim ekonomi kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja," ungkap Ibrahim.
Dengan kondisi tersebut, prospek ekonomi 2026 diperkirakan lebih cerah dibanding tahun ini. Pemulihan investasi, konsumsi rumah tangga, serta kebijakan fiskal ekspansif diproyeksi menjadi penopang utama pertumbuhan. Sektor manufaktur, industri pengolahan dan padat karya diharapkan menjadi penerima manfaat terbesar dari lanjutan program strategis pemerintah dan BI.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ