- Harga minyak naik, didorong menunggu negosiasi perdamaian Rusia-Ukraina dan keputusan suku bunga the Fed.
- Stok minyak AS merosot, namun persedian bensin dan distilat meningkat.
- Pasokan global tetap tinggi, termasuk produksi Rusia dan AS, sehingga kenaikan harga masih terbatas.
Ipotnews - Harga minyak menguat, Rabu, setelah sebelumnya jatuh sekitar 1%, karena investor menunggu perkembangan negosiasi perdamaian antara Rusia dan Ukraina serta keputusan suku bunga Federal Reserve.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 19 sen atau 0,3% menjadi USD62,13 per barel pada pukul 13.45 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Rabu (10/12).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), juga bertambah 19 sen atau 0,3% ke posisi USD58,44 per barel.
Suvro Sarkar, analis DBS Bank, mengatakan pasar minyak saat ini "berjuang mencari arah" dengan sedikit dorongan dari penurunan persediaan minyak mentah AS seperti yang dilaporkan American Petroleum Institute (API).
"Trader akan mencari petunjuk dari terobosan atau kegagalan dalam pembicaraan perdamaian Ukraina, sementara kebijakan pemangkasan suku bunga the Fed juga menjadi faktor makro kunci yang bisa mendukung harga minyak," ujarnya.
Data API menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika merosot 4,78 juta barel pekan lalu, sementara stok bensin melonjak 7 juta barel dan persediaan distilat meningkat 1,03 juta barel.
Pasar memperkirakan the Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada pertemuan Rabu, untuk mendukung pasar tenaga kerja yang melambat.
Suku bunga lebih rendah dapat meningkatkan permintaan minyak melalui percepatan pertumbuhan ekonomi.
Namun, kekhawatiran bahwa pasokan melebihi permintaan membatasi kenaikan harga. Analis ING memperingatkan, meski ekspor Rusia tetap tinggi, "barel-barel tersebut kesulitan menemukan pembeli," dan produksi minyak Rusia diperkirakan menurun jika permintaan tidak ditemukan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan negaranya bersama mitra Eropa akan segera menyerahkan "dokumen final" kepada Amerika, terkait rencana perdamaian untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Kesepakatan tersebut bisa membuka pencabutan sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan energi Rusia, sehingga menambah pasokan minyak yang sebelumnya dibatasi.
Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) Amerika memperkirakan produksi minyak negara itu akan mencatat rekor lebih tinggi tahun ini dibanding prediksi sebelumnya, dengan proyeksi 2025 naik 20.000 barel menjadi rata-rata 13,61 juta barel per hari.
Namun, EIA menurunkan proyeksi total produksi 2026 sebesar 50.000 barel menjadi 13,53 juta barel per hari. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ