- Harga minyak Brent dan WTI naik 1,5%, terdorong perintah blokade total AS terhadap kapal tanker Venezuela.
- Kenaikan bersifat sementara, karena produksi Venezuela hanya 1% dari total pasokan global.
- Risiko jangka panjang tetap ada jika gangguan pasokan berlanjut, meski pasar masih fokus pada pembicaraan Rusia-Ukraina.
Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari 1 persen, Rabu, setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan "blokade total dan menyeluruh" terhadap seluruh kapal tanker minyak yang terkena sanksi masuk dan keluar dari Venezuela.
Langkah ini menimbulkan ketegangan geopolitik baru di tengah kekhawatiran pasar terkait permintaan global.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menguat 87 sen atau 1,5 persen menjadi USD59,79 per barel pada pukul 14.30 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Rabu (17/12).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), bertambah 85 sen atau 1,5 persen menjadi USD56,12 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level terendah lima tahun karena kemajuan dalam pembicaraan perdamaian Rusia-Ukraina. Kesepakatan potensial dianggap dapat mendorong pencabutan sebagian sanksi Barat terhadap Moskow, sehingga menambah pasokan minyak di tengah permintaan global yang masih rapuh.
Namun, perintah Trump, Selasa, menandai blokade terhadap kapal tanker yang terkena sanksi dan menyatakan penguasa Venezuela kini dianggap sebagai organisasi teroris asing.
Trader minyak di Asia mencatat pemulihan pembelian berjangka setelah harga turun di bawah USD60 per barel juga menjadi faktor kunci kenaikan harga pada sesi Rabu.
"Meski harga hari ini terdorong sentimen terkait Venezuela, volume ekspor minyak negara itu relatif kecil dalam total pasokan global. Dengan perhatian pasar masih tertuju pada pembicaraan Rusia-Ukraina, risiko penurunan harga tetap ada," kata seorang trader.
Trader lain menambahkan, kenaikan harga kemungkinan bersifat sementara, dan bisa menjadi peluang untuk membangun posisi jual (short positions).
Langkah Trump ini mengikuti penangkapan kapal tanker yang terkena sanksi di lepas pantai Venezuela pekan lalu.
Namun, masih belum jelas berapa banyak kapal yang akan terdampak, bagaimana Amerika akan menegakkan blokade, dan apakah Penjaga Pantai AS akan terlibat seperti minggu sebelumnya. Beberapa kapal pengangkut minyak Venezuela yang telah disewa Chevron masih mengirimkan minyak ke AS berdasarkan izin dari Washington.
Muyu Xu, analis Kpler, menyatakan produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 persen dari total output global, dan pasokan minyak negara itu terkonsentrasi pada sejumlah kecil pembeli, termasuk China, Amerika, dan Kuba.
Xu menambahkan, melimpahnya pasokan di pasar minyak yang terkena sanksi kemungkinan akan membatasi kenaikan harga minyak Venezuela di China meski ada potensi gangguan pengiriman. China merupakan pembeli terbesar minyak Venezuela, yang menyumbang sekitar 4 persen dari total impor negara tersebut.
Emril Jamil, analis LSEG , menilai dalam jangka pendek, lonjakan harga ekstrem tidak mungkin terjadi kecuali ada aksi balasan yang berdampak pada sistem minyak dan gas di seluruh Amerika. Namun, dalam jangka panjang, gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat mendukung harga minyak jenis heavy crude. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ