- Rupiah Melemah Tipis: Rupiah ditutup melemah sangat tipis 0,02% ke level Rp16.694 per dolar AS pada Rabu (17/12), seiring penguatan dolar AS di tengah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang beragam.
- Sentimen Eksternal Dominan: Penguatan dolar didorong kenaikan tingkat pengangguran AS ke level tertinggi dalam empat tahun, data PMI dan penjualan ritel yang melemah, serta fokus pasar pada rilis data inflasi AS (CPI) dan meningkatnya tensi geopolitik terkait Venezuela.
- Penahan dari Dalam Negeri: Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4,75% serta inflasi domestik yang tetap terkendali membantu menahan tekanan rupiah, meski untuk perdagangan berikutnya rupiah diperkirakan tetap fluktuatif di kisaran Rp16.690-Rp16.720 per dolar AS.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah sangat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/12), seiring penguatan indeks dolar AS di tengah rilis data ekonomi Negeri Paman Sam yang beragam.
Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp16.694 per dolar AS, melemah 3 poin atau sekitar 0,02% dibandingkan penutupan Selasa (16/12) di posisi Rp16.691 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS pada perdagangan Rabu dipicu oleh respons pasar terhadap sejumlah indikator ekonomi AS yang menunjukkan sinyal perlambatan.
"Data ekonomi AS yang beragam pada hari Selasa, terutama data penggajian non-pertanian dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Tingkat pengangguran AS mencapai level tertinggi dalam empat tahun, memicu kekhawatiran terhadap perekonomian," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Selain itu, tanda-tanda pendinginan ekonomi AS juga tercermin dari data indeks manajer pembelian (PMI) bulan Desember yang lebih lemah dari perkiraan, serta data penjualan ritel Oktober yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya.
Data-data yang lemah ini muncul di tengah kekhawatiran mengenai tingkat likuiditas di pasar AS, terutama setelah Federal Reserve kembali melanjutkan pembelian obligasi pemerintah atau pelonggaran kuantitatif pada Desember.
"Fokus sekarang tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) yang akan datang, yang akan dirilis pada hari Kamis, dan akan di pantaua secara cermat untuk setiap tanda pendinginan inflasi sehingga mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang arah negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut," ujar Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, sentimen eksternal juga dipengaruhi oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan blokade terhadap seluruh kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang keluar dan masuk Venezuela, serta menyatakan penguasa negara tersebut sebagai organisasi teroris asing.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan turut menjadi faktor penahan pelemahan rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility di 5,5%.
Keputusan BI konsisten dengan prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Ibrahim menambahkan BI perlu tetap waspada dan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengingat inflasi meski melandai masih berada di kisaran atas target bank sentral.
Inflasi tercatat melambat dari 2,86% (yoy) menjadi 2,72% (yoy) pada November 2025, namun masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5-3,5%.
Di sisi lain, kombinasi penurunan Fed Funds Rate oleh The Fed dan keputusan BI mempertahankan suku bunga kebijakan pada RDG sebelumnya telah mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp16.690 hingga Rp16.720 per dolar AS," ungkap Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ