- Rupiah berpotensi menguat tipis dan berkonsolidasi di tengah minimnya rilis data ekonomi di akhir tahun, dengan kisaran pergerakan diperkirakan Rp16.650-Rp16.750 per dolar AS.
- Sentimen risk on global menjadi penopang terbatas bagi rupiah, namun sentimen domestik negatif masih membayangi seiring ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan BI Rate ke depan.
- Bank Indonesia memberi sinyal ruang penurunan suku bunga pada 2026, setelah memangkas BI Rate total 100 bps sepanjang 2025, didukung inflasi yang rendah dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan menguat tipis hari ini, di tengah minimnya data ekonomi baru di penghujung tahun.
Mengutip data Bloomberg pada Senin (22/12) pukul 09.09 WIB, kurs rupiah sedang diperdagangkan di level Rp16.752 per dolar AS, melemah 2 poin atau sekitar 0,01% dibandingkan penutupan Jumat (19/12) di posisi Rp16.750 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat tipis atau terbatas. "Karena didukung oleh sentimen risk on di tengah minimnya data - data ekonomi di penghujung tahun," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini melalui pesan WhatsApp.
Di sisi lain, Lukman memperkirakan sentimen risk on saja diperkirakan tidak akan banyak mendukung rupiah mengingat sentimen negatif domestik dari prospek pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia masih ada.
"Range kurs rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp16.650 - Rp16.750 per dolar AS," ujar Lukman.
BI memberi sinyal pemangkasan suku bunga acuan atau BI Rate pada 2026 mendatang, meski Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 sepakat menahan suku bunga di level 4,75%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral akan tetap menjalankan kebijakan moneter 2026 melalui tiga instrumen utama. Ketiganya adalah suku bunga, stabilisasi nilai tukar, dan pengelolaan likuiditas melalui operasi moneter.
Menurut Perry, BI telah menurunkan suku bunga acuan secara bertahap sebanyak 100 basis points (bps) sejak awal 2025 dan terakhir kalinya pada September lalu.
"Ke depan masih ada ruang penurunan suku bunga, dasar pertimbangannya proyeksi inflasi yang tetap rendah dan terkendali dalam sasaran, serta perlunya bersama pemerintah dan berbagai pihak untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," kata Perry dalam sesi tanya jawab usai RDG BI, Rabu (17/12).(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ