- Harga CPO turun 0,42% ke 4.072 ringgit, mengakhiri reli empat hari akibat tingginya stok domestik.
- Tekanan dinilai sementara karena produksi diperkirakan melambat dan permintaan--termasuk ekspor Desember--mulai membaik.
- Pasar menanti data MPOB Januari; faktor pendukung lain meliputi harga minyak mentah yang naik, pelemahan ringgit, dan sinyal teknikal peluang kenaikan lanjutan.
Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia mengakhiri reli empat sesi berturut-turut, Senin, terbebani tingginya tingkat persediaan domestik, meski penurunan produksi dan permintaan yang lebih kuat diperkirakan menjaga harga tetap berada di level tinggi.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melemah 17 ringgit atau 0,42 persen menjadi 4.072 ringgit per ton metrik pada jeda perdagangan siang, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Senin (29/12).
Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif pasar yang dipicu oleh stok CPO Malaysia yang masih tinggi, demikian penuturan David Ng, trader Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur.
Namun demikian, dia menilai tekanan tersebut berpotensi bersifat sementara. Ekspektasi perlambatan laju produksi serta meningkatnya permintaan dalam beberapa pekan ke depan diyakini dapat menopang harga dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data suplai dan permintaan CPO Malaysia untuk periode Desember yang akan diumumkan Malaysian Palm Oil Board ( MPOB ) pada 12 Januari. Data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan harga selanjutnya.
Dari sisi ekspor, survei kargo menunjukkan adanya perbaikan permintaan. Ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1-25 Desember diprediksi meningkat antara 1,6 persen hingga 3 persen dibandingkan bulan sebelumnya, memberikan sinyal positif bagi prospek pasar.
Pergerakan harga CPO juga dipengaruhi pasar minyak nabati global. Di China, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian melemah 0,15 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun 0,42 persen. Harga soyoil di Chicago Board of Trade juga tercatat melemah tipis 0,04 persen.
Harga CPO kerap mengikuti pergerakan minyak pesaingnya karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia menguat pada awal perdagangan Asia seiring kekhawatiran investor terhadap ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan, di tengah ketidakpastian terkait perundingan damai Rusia-Ukraina.
Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Dari sisi nilai tukar, ringgit Malaysia melemah 0,17 persen terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang ini membuat harga CPO menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga berpotensi mendorong permintaan ekspor.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao menyebutkan harga CPO berpeluang naik hingga 4.123 ringgit per ton metrik setelah berhasil menembus level resistance di 4.078 ringgit. Hal ini membuka ruang penguatan lanjutan meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi pasar. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ