JAKARTA, investor.id -Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok pada Senin (29/12/2025). Dengan demikian, reli empat hari terhenti karena tertekan tingginya persediaan meski prospek permintaan mulai membaik.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Senin (29/12/2025), kontrak berjangka CPO untuk Januari 2026 anjlok 51 Ringgit Malaysia menjadi 4.009 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Februari 2026 ambles 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.038 Ringgit Malaysia pe ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Maret 2026 jatuh 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.047 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2026 terpangkas 36 Ringgit Malaysia menjadi 4.049 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Mei 2026 juga terkoreksi 31 Ringgit Malaysia menjadi 4.041 Ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan Kontrak berjangka CPO Juni 2026 yang turun 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.023 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Tradingview, harga CPO sekaligus mengakhiri reli empat sesi beruntun. Pelemahan harga dipicu sentimen negatif tingginya persediaan, meski penurunan tertahan oleh ekspektasi turunnya produksi dan membaiknya permintaan dalam waktu dekat.
Trader Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur, David Ng, mengatakan pasar saat ini tertekan oleh tingginya stok minyak sawit yang memicu sentimen negatif."Sentimen pasar masih dibayangi level persediaan yang tinggi," ujar Ng. Namun demikian, ia menilai harga CPO masih memiliki peluang bertahan dalam jangka pendek.
Menurut Ng, ekspektasi perlambatan produksi serta meningkatnya permintaan dalam beberapa pekan ke depan berpotensi menjadi faktor penopang harga minyak sawit.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data pasokan dan permintaan minyak sawit Malaysia untuk periode Desember yang akan diumumkan oleh Malaysian Palm Oil Board ( MPOB ) pada 12 Januari mendatang.
Ekspor CPO
Dari sisi ekspor, survei kargo menunjukkan pengapalan produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-25 Desember diperkirakan naik sekitar 1,6% hingga 3% dibandingkan bulan sebelumnya, memberikan sinyal awal perbaikan permintaan.
Di pasar global, harga minyak nabati pesaing juga bergerak melemah. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,28%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama terkoreksi 0,61%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade ( CBOT ) juga melemah tipis 0,1%.
Sebagai komoditas yang bersaing di pasar minyak nabati global, pergerakan harga CPO kerap mengikuti arah harga minyak nabati lainnya.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia menguat lebih dari US$ 1 per barel, seiring pelaku pasar mencermati pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat dan Presiden Ukraina terkait potensi kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Penguatan harga minyak mentah cenderung meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Dari sisi nilai tukar, Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,32% terhadap dolar AS. Pelemahan ringgit ini membuat harga CPO menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mendukung permintaan.
Sumber : investor.id
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ