JAKARTA, investor.id -Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) jatuh lagi pada Rabu (14/1/2026), melanjutkan penurun dua hari beruntun. Pelemahan ini terjad setelah Indonesia membatalkan rencana penerapan program wajib biodiesel B50 tahun ini.
Meski demikian, sinyal membaiknya permintaan ekspor dari India dan China membatasi penurunan harga.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Rabu (14/1/2026), kontrak berjangka CPO untuk Februari 2026 turun 30 Ringgit Malaysia menjadi 4.000 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2026 melemah 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.040 Ringgit Malaysia pe ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO April 2026 jatuh 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.059 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2026 terkoreksi 14 Ringgit Malaysia menjadi 4.069 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Juni 2026 juga terpangkas 10 Ringgit Malaysia menjadi 4.066 Ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan Kontrak berjangka CPO Juli 2026 yang turun 5 Ringgit Malaysia menjadi 4.060 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Tradingview, Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari Paramalingam Supramaniam mengatakan, pasar masih melihat aksi beli lanjutan seiring pergerakan sejalan dengan pasar minyak kedelai di Chicago.
Ia menambahkan, ekspor Januari mulai menunjukkan momentum positif, dengan angka kuat pada 10 hari pertama dan ekspektasi kinerja yang juga solid pada 15 hari pertama bulan ini. "Kami melihat adanya minat dari India dan China dalam dua hari terakhir," ujarnya.
Ekspor CPO Naik
Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor produk CPO Malaysia pada periode 1-10 Januari naik antara 17,7% hingga 29,2% dibandingkan bulan sebelumnya. Data ekspor untuk periode 1-15 Januari dijadwalkan dirilis pada Kamis (15/1/2026).
Pemerintah Indonesia secara resmi membatalkan rencana penerapan biodiesel berbasis sawit B50 tahun ini dan tetap menggunakan B40, dengan alasan kendala teknis dan pendanaan. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan pasokan minyak sawit global.
Di sisi lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,12%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 0,55%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,68%. Harga minyak sawit biasanya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing, mengingat komoditas ini bersaing dalam pasar minyak nabati global.
Nilai tukar ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,22% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga minyak sawit sedikit lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing.
Sementara itu, harga minyak mentah naik untuk sesi kelima berturut-turut akibat kekhawatiran gangguan pasokan Iran di tengah kerusuhan sipil mematikan serta saling ancam antara AS dan Iran. Penguatan harga minyak mentah tersebut membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sumber : investor.id
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ