Harga CPO Diprediksi Lebih Rendah pada 2026, Pasokan Naik, Permintaan Biofuel Melemah

avatar
· Views 326
  • Harga CPO diperkirakan rata-rata lebih rendah pada 2026 akibat pasokan global yang meningkat dan melemahnya permintaan biofuel.
  • Survei Reuters memproyeksikan harga acuan minyak sawit tahun ini di kisaran RM4.125 per ton, turun 2,55% dari 2025.
  • Produksi Indonesia dan Malaysia yang lebih kuat serta lonjakan stok Malaysia ke level tertinggi hampir tujuh tahunmenekan harga.

Ipotnews - Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan mencatatkan harga rata-rata yang lebih rendah pada 2026 dibandingkan tahun lalu. Pasokan yang lebih kuat dari produsen utama serta permintaan biofuel yang lesu menekan harga.
Menurut hasil jajak pendapat Reuters, Senin (19/1) - berdasarkan estimasi median dari 14 pedagang, analis, dan pelaku industri - harga acuan minyak sawit diperkirakan rata-rata mencapai 4.125 ringgit per ton pada tahun ini, turun 2,55% dari 2025.
Laman Reuters mencatat, rata-rata harga penutupan CPO naik 2,54% menjadi RM4.233 pada 2025 dari RM4.128 pada tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh penerapan mandatori biodiesel B40 di Indonesia - yang mengandung 40% minyak sawit - meski pasar masih dibayangi kelebihan pasokan.
Indonesia, produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia, sebelumnya berencana menaikkan mandatori biodiesel menjadi B50 pada 2026. Namun, pemerintah membatalkan rencana tersebut awal bulan ini dan memilih mempertahankan B40 karena kendala teknis dan pendanaan.
"Pasar sebelumnya bertaruh harga akan naik dengan ekspektasi Indonesia membutuhkan lebih banyak minyak sawit untuk pencampuran biodiesel," kata seorang trader yang berbasis di New Delhi. "Namun, dengan kebutuhan yang tidak lagi meningkat, fokus tiba-tiba kembali tertuju pada pasokan," imbuhnya seperti dikutip Reuters.
Produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia - produsen terbesar kedua - dalam beberapa bulan terakhir lebih kuat dari perkiraan berkat cuaca yang mendukung. Stok Malaysia menanjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun.
Volatilitas harga minyak sawit pada paruh pertama 2026 akan bergantung pada kondisi cuaca di Asia Tenggara, kebijakan biofuel AS, serta panen kedelai Amerika Selatan, kata Anilkumar Bagani, kepala riset di pialang minyak nabati di Sunvin Group, Mumbai.
Harga minyak sawit kembali kompetitif dibandingkan minyak kedelai (soyoil) sejak pertengahan tahun lalu, yang diperkirakan akan menopang harga, kata CEO Malaysian Palm Oil Association, Roslin Azmy Hassan.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi CPO Indonesia pada 2025 akan mencapai rekor 51 juta ton, naik dari 48,16 juta ton pada tahun sebelumnya. Hasil jajak pendapat Produksi Indonesia diperkirakan meningkat lagi menjadi 51,2 juta ton pada 2026, naik 0,39%, menurut tersebut.
Produksi di Indonesia kemungkinan terus meningkat seiring mulai dipanennya kebun perusahaan yang telah diremajakan, dengan asumsi cuaca mendukung, ujar Ketua GAPKI Eddy Martono.
Produksi Malaysia diperkirakan turun tipis akibat keterbatasan tenaga kerja dan usia perkebunan yang menua, meski produktivitas diperkirakan tetap di atas rata-rata.
Malaysia diproyeksikan memproduksi 19,75 juta ton minyak sawit pada 2026, turun 2,61% dari rekor produksi tahun lalu sebesar 20,28 juta ton, namun masih di atas rata-rata 10 tahun sebesar 19,05 juta ton.
Secara keseluruhan, pasokan diperkirakan tetap melimpah, dengan stok Malaysia naik menjadi 3,05 juta ton dari 1,7 juta ton setahun sebelumnya. (Reuters)

Sumber : admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest