- Rupiah berpotensi lanjut menguat seiring meredanya ketegangan geopolitik setelah AS membatalkan ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, memicu sentimen risk-on di pasar.
- Indeks dolar AS masih tertekan, meski data ekonomi AS cukup solid. Sikap BI yang cenderung less dovish turut menopang penguatan rupiah, dengan kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS.
- Data ekonomi AS tetap kuat, belanja konsumen naik 0,3% pada November, namun tidak cukup mengangkat dolar karena pasar lebih fokus pada stabilitas global dan arah kebijakan moneter.
Ipotnews - Kurs rupiah diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat hingga akhir pekan, seiring meredanya sengketa perebutan Greenland antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang turut memicu sentimen positif di pasar.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (23/1) pukul 09.21 WIB, kurs rupiah diperdagangkan di level Rp16.848 per dolar AS, menguat 48 poin atau 0,28 persen dibandingkan posisi penutupan Kamis (22/1) di level Rp16.896 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa indeks dolar AS masih berada dalam tekanan. "Investor terpantau mengabaikan data ekonomi AS semalam yang menunjukkan pertumbuhan dan data pekerjaan yang lebih baik, sementara inflasi PCE secara umum sesuai dengan harapan," ujar Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini melalui pesan WhatsApp.
Rupiah diperkirakan akan terus menguat terhadap dolar AS didorong oleh membaiknya perkembangan terkait Greenland yang memicu sentimen risk on di pasar keuangan. Selain itu, sikap Bank Indonesia yang dinilai less dovish pada pertemuan RDG BI pada Rabu kemarin juga masih memberikan dukungan bagi pergerakan rupiah.
"Range kurs rupiah pada kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS," kata Lukman.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan pembatalan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk menguasai Greenland. Trump beralasan bahwa "kerangka kerja kesepakatan masa depan" terkait pulau tersebut telah berhasil dicapai.
Keputusan yang diumumkan melalui media sosial pada Rabu (21/1) ini menandai titik balik yang cukup drastis bagi presiden AS tersebut, setelah sebelumnya gencar menekan Eropa. Langkah ini diambil menyusul pertemuan Trump dengan Sekretaris Jenderal
NATO
, Mark Rutte, di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.Di sisi lain, belanja pribadi Amerika Serikat tercatat meningkat dengan laju yang solid pada November, mencerminkan ketahanan konsumsi masyarakat pada awal musim belanja liburan.
Berdasarkan data Biro Analisis Ekonomi (BEA), pengeluaran konsumen yang telah disesuaikan dengan inflasi meningkat 0,3 persen pada November, menjadi kenaikan bulan kedua secara berturut-turut. BEA baru merilis data tersebut pada Kamis, setelah sempat tertunda cukup lama akibat penutupan pemerintah federal.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ