- Bolehkan WNA Jadi Direksi
Presiden Prabowo Subianto tak luput memamerkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis malam kemarin. Salah satu yang dipamerkan adalah gebrakan yang dilakukan oleh pemerintahannya pada pengelolaan BUMN usai Danantara diluncurkan.
Dalam forum ekonomi dunia itu, Prabowo memaparkan gebrakan yang akan dilakukan setelah ada Danantara, salah satunya memangkas jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dia bilang Danantara mengelola 1.044 BUMN, namun jumlahnya akan dipangkas jadi 300-an saja dengan alasan efisiensi.
"Dan kita berusaha mencari eksekutif terbaik untuk memimpin Danantara. Saat ini Danantara mengelola 1.044 BUMN, dan kita akan terus pangkas menjadi hanya 300-an. Kita akan melakukan rasionalisasi, kita akan hilangkan inefisiensi," tutur Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, dikutip Jumat (23/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Prabowo Pamer Danantara Kelola Aset US$ 1 Triliun dan 1.044 BUMN di WEF |
Bolehkan WNA Jadi Direksi
Prabowo menambahkan pemerintahannya juga ingin Danantara bisa dikelola sesuai dengan standar internasional. Oleh karena itu, Danantara diizinkan merekrut ekspatriat atau warga negara asing untuk memimpin lembaga tersebut ataupun BUMN yang berada di bawah kelolaannya.
"Kita ingin manajemen yang sesuai dengan standar internasional. Saya mengizinkan Danantara merekrut ekspatriat, warga negara asing untuk bergabung ke Danantara. Kita ingin pemikir terbaik ada di Danantara," sebut Prabowo.
Dalam catatan detikcom, sudah ada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, sebagai BUMN yang memulai pengangkatan direksi WNA. Keduanya yakni Balagopal Kunduvara yang menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko serta Neil Raymond Mills yang menjabat Direktur Transformasi.
Di sisi lain dalam jajaran pejabat tinggi Danantara sederet orang asing sudah bertengger menempati jabatan penting, misalnya di jajaran Dewan Penasihat, ada investor kawakan AS Ray Dalio dan F. Chapman Taylor, ekonom AS Jeffrey Sachs, dan juga eks PM Thailand Thaksin Shinawatra. Kemudian ada Managing Director Risk and Sustainibility Danantara Lieng-Seng Wee dan juga Komite Investasi dan Portofolio Yup Kim.
(hal/ara)Được in lại từ detik_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ