CPO Menguat Dua Hari Beruntun, Ditopang Ekspor dan Produksi yang Menurun

avatar
· Views 2,288
  • CPO naik didorong harga minyak nabati Dalian serta ekspor kuat dan produksi rendah.
  • Ekspor Malaysia melonjak, tapi kenaikan tertahan ringgit yang menguat dan minyak mentah melemah.
  • Teknikal positif, CPO berpeluang naik ke area 4.272 ringgit per ton.

Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia kembali menguat untuk dua sesi berturut-turut, Selasa, mengikuti kenaikan harga minyak nabati pesaing di Bursa Dalian. Sentimen positif pasar juga didorong kinerja ekspor yang solid serta data produksi yang lebih rendah.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 10 ringgit atau 0,24 persen menjadi 4.235 ringgit (USD1.072,15) per metrik ton pada jeda perdagangan siang, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Selasa (27/1).
Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur menyebutkan penguatan pasar dipengaruhi beberapa faktor utama. "Pasar mengikuti kenaikan harga di Dalian, ditopang ekspor yang baik serta produksi yang lebih rendah, sehingga reli harga dapat berlanjut," ujarnya.
Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif naik 0,54 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 2,09 persen. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade ( CBOT ) melemah 0,56 persen.
Harga CPO kerap bergerak sejalan dengan minyak pesaing lainnya karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Dari sisi fundamental, Intertek Testing Services melaporkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang 1-25 Januari melesat 9,97 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia mencatat kenaikan ekspor 7,97 persen pada periode yang sama.
Namun, penguatan ringgit Malaysia turut menjadi faktor penahan laju kenaikan harga. Ringgit menguat 0,33 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Di sisi lain, harga minyak mentah global melemah pada Selasa, meski badai musim dingin besar melanda wilayah Teluk AS dan mengganggu produksi serta operasional kilang minyak. Pelemahan harga minyak mentah membuat CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao menyebutkan harga minyak sawit berpeluang menguji level resistance di 4.272 ringgit per metrik ton. Jika berhasil menembus level tersebut, harga berpotensi naik ke kisaran 4.316 hingga 4.343 ringgit per ton. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest