Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan harga bawang putih bakal turun dalam waktu dekat. Hal ini terjadi karena persoalan Perizinan impor (PI) sudah diselesaikan.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan dengan telah diselesaikan persoalan izin impor tersebut. Bawang putih impor diperkirakan mulai masuk ke Indonesia pada akhir Januari hingga awal Februari 2026.
"Barang bawangnya sudah ada di Tanjung Priok seharusnya tuh di akhir Januari ini atau di awal Februari. Kalau barangnya sudah ada, otomatis itu akan turun. Akan sesuai dengan harga acuan," ungkapnya di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain bawang putih, Iqbal mengatakan harga minyaKita juga akan turun hingga mencapai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Saat ini kata Iqbal, harga MinyaKita sudah menunjukkan penurunan harga.
"Minggu lalu itu rata-rata nasional harga minyak kita itu Rp 16.800, sekarang itu sudah menjadi Rp 16.500. Terjadi penurunan. Nah ini kita harapkan kalau misalnya ini sudah optimal nanti di akhir bulan ini, itu bisa mencapai harga eceran tertinggi yang telah kita sepakati bersama. Itu terkait minyak kita," katanya.
Sebelumnya, Deputi III Kepala Staf Kepresidenan, Edy Priyono mengatakan untuk bawang putih harganya rata-rata nasional mencapai Rp 44.700 per kilogram (kg), sementara harga acuan pembelian (HAP) Rp 38.000/kg. Menurutnya ini masalah lama yang tidak kunjung usai.
"Kami berharap bisa mengevaluasi akan implementasi kebijakan bawang putih karena harganya jauh lebih tinggi dari harga acuan. Meskipun kita lihat antar daerah juga tidak semua daerah harganya sangat tinggi," kata dia dalam rapat koordinasi inflasi daerah, dikutip dari YouTube Kemendagri, Senin (6/1/2025).
Untuk harga Minyakita saat ini telah mencapai Rp 17.300/liter. Padahal harga eceran tertinggi (HET) Minyakita Rp 15.700/liter.
Menurut Edy salah satu penyebab tidak kunjung turunnya harga Minyakita karena rantai distribusi yang panjang. Seharusnya rantai distribusinya dari produsen ke distributor 1, distributor 2, langsung ke pengecer.
Sementara nyatanya, rantai itu tidak berlaku di lapangan. Para pedagang melakukan dua hal untuk memasok Minyakita, pertama mengandalkan sales yang menawarkan ke warung mereka dan kedua membeli dari sesama pengecer.
"Di lapangan jarang pengecer yang mengambil Minyakita langsung ke distributor, atau d2. Ternyata, pengecer itu kan bukan hanya jual Minyakita, jual bumbu, sembako, sehingga mereka tidak mengambil sendiri. Mereka pengandalkan sales yang datang kemudian memasok Minyakita, juga ada yang beli di pengecer lain, jadi sulit harganya dijaga di HET," terangnya.
Edy juga mencurigai masalah tingginya Minyakita karena pasokan yang terbatas. Karena menurutnya saat ditelusuri ke pasar, pasokan Minyakita sedikit. Di sisi lain Domestic market obligation (DMO) atau pasokan minyak dalam negeri sebagai Minyakita tercatat cukup untuk kebutuhan dalam negeri.
"Sampai saat ini, ini masih merupakan indikasi, jangan-jangan pasokan DMO tidak sama dengan pasokan Minyakita. Karena ketika di pasar Minyakita ada, kita temui, tetapi jumlahnya tidak banyak," pungkasnya.
(hrp/hns)Được in lại từ detik_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ