Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan berencana membentuk cadangan mineral kritis nasional. Langkah ini dimaksudkan untuk melindungi AS dari ketergantungan pasokan logam tanah jarang (rare earth) dan logam penting strategis lainnya dari China.
Melansir Bloomberg, Senin (2/2/2026), menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, cadangan mineral krisis yang diberi nama sebagai 'Project Vault' tersebut rencananya dibentuk dengan pendanaan awal sekitar US$ 12 miliar atau Rp 201,57 triliun (asumsi kurs Rp 16.798/dolar AS).
Dilaporkan dana awal proyek itu berasal dari pendanaan swasta sebesar US$ 1,67 miliar (Rp 28,05 triliun) serta pinjaman dari Bank Ekspor-Impor AS sebesar US$ 10 miliar (Rp 167,98 triliun) untuk membeli dan menimbun mineral penting bagi produsen mobil, perusahaan teknologi, dan sektor strategis lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya Trump untuk mengurangi ketergantungan AS dalam rantai pasok mineral kritis ini dimulai saat China pertama kali memperketat kontrol ekspor sejumlah logam tanah jarang dan material.
Baca juga: Airlangga Sebut Nego Tarif AS Rampung, Tinggal Tunggu Diteken Prabowo-Trump |
Saat itu, kebijakan ini langsung mendorong beberapa produsen AS untuk mengurangi produksi imbas ketersediaan stok mineral maupun karena kenaikan harga yang cukup signifikan. Menunjukkan besarnya pengaruh China terhadap sektor perindustrian Paman Sam.
Sehingga dengan adanya cadangan nasional ini, produsen AS dapat mengambil sebagian dari persediaan nasional selama perusahaan-perusahaan tersebut mengisi kembali stok tersebut. Membuat mereka lebih tahan terhadap risiko kenaikan harga maupun ketersediaan bahan baku.
"Para produsen akan diizinkan untuk menggunakan sebagian dari persediaan bahan baku mereka selama perusahaan-perusahaan tersebut mengisi kembali persediaan tersebut. Jika terjadi gangguan pasokan besar, mereka akan dapat mengakses seluruh persediaan tersebut," kata pejabat yang mengetahui masalah itu.
Dalam pelaksanaannya, sumber yang tidak ingin diketahui namanya itu menjelaskan, proyek cadangan mineral kritis ini sudah menggandeng partisipasi dari banyak perusahaan AS termasuk General Motors, Stellantis, Boeing, Corning, GE Vernova, dan Google milik Alphabet.
Kemudian perusahaan perdagangan komoditas Hartree Partners, Traxys North America, dan Mercuria Energy Group akan mengelola pengadaan bahan baku untuk persediaan tersebut.
"Elemen kunci dalam rancangan usaha ini adalah produsen yang berkomitmen untuk membeli sejumlah bahan tertentu dengan harga tetap juga berkomitmen untuk membeli kembali jumlah yang sama dengan biaya yang sama di masa mendatang. Pemerintah melihat hal itu sebagai mekanisme penstabil, yang membantu menekan volatilitas," jelas sumber tersebut dikutip dari Bloomberg.
(igo/hns)Được in lại từ republika_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ