- Moody's menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, yang meningkatkan kehati-hatian investor, meski peringkat kredit tetap Baa2 (investment grade).
- IHSG berpotensi menguji level psikologis 8.000 dalam jangka pendek; jika ditembus, ada peluang turun ke sekitar 7.888, dengan dampak utama pada psikologi pasar.
- Reaksi pasar diperkirakan berupa selective selling, terutama pada saham bank BUMN dan emiten strategis, namun kondisi ini dinilai sebagai fase konsolidasi.
Ipotnews - Pendiri lembaga edukasi pasar modal Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) bakal menguji level psikologis 8.000 dalam jangka pendek, seiring meningkatnya kehati-hatian investor setelah penurunan outlook Indonesia dari 'Stabil' menjadi 'Negatif' yang dilakukan Moody's Investors Service.
Menurut Hendra, perubahan outlook tersebut tidak mengubah status Indonesia yang tetap berada pada peringkat kredit Baa2 (investment grade) alias negara layak investasi, namun menjadi sinyal peningkatan risiko, terutama terkait tata kelola dan kepastian kebijakan, yang selanjutnya mempengaruhi persepsi investor.
"Dalam jangka pendek, IHSG memang rentan mengalami koreksi. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Apabila level ini ditembus, ruang penurunan terbuka menuju area support berikutnya di level 7.888," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (5/2).
Dia menjelaskan, dalam waktu dekat dampak yang paling terasa ada pada psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada fundamental ekonomi. Kondisi ini akan tercermin pada kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor panjang, pelebaran spread obligasi dan tekanan arus dana asing di pasar saham.
Untuk pasar saham, Hendra memperkirakan, reaksi yang muncul cenderung berupa selective selling, bukan panic selling. Sejumlah saham bank BUMN dan emiten strategis milik negara dinilai lebih sensitif, karena investor mulai memasukkan risiko tambahan dalam perhitungan valuasi.
Dia menambahkan, pergerakan tersebut lebih tepat dipandang sebagai fase konsolidasi, bukan awal tren bearish struktural. Hendra juga beranggapan bahwa risiko Indonesia turun kelas menjadi frontier market masih relatif kecil, selama stabilitas kebijakan, likuiditas pasar dan kepercayaan investor tetap terjaga. (Budi/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ