- Rupiah menguat 0,42% ke Rp16.805 per dolar AS, didorong meredanya risiko geopolitik global seiring berlanjutnya dialog nuklir AS-Iran yang menurunkan kekhawatiran konflik militer dan melemahkan indeks dolar AS.
- Sentimen global relatif kondusif, dengan pasar menantikan rilis data penting AS (NFP dan CPI) serta data inflasi Tiongkok menjelang Imlek, yang menjadi acuan arah suku bunga dan permintaan global.
- Faktor domestik turut menopang rupiah, didukung optimisme fiskal pemerintah setelah penerimaan pajak Januari 2026 melonjak 30,8% (YoY) serta Indeks Keyakinan Konsumen naik ke level tertinggi setahun di angka 127.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/2), seiring meredanya kekhawatiran pasar global terhadap potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Pelaku pasar merespons positif berlanjutnya dialog nuklir kedua negara, yang menurunkan premi risiko geopolitik dan menekan penguatan dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 15.00 WIB rupiah menguat 71 poin atau 0,42% ke level Rp16.805 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat (6/2) di Rp16.876 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pelemahan indeks dolar AS turut menjadi faktor pendukung penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada awal pekan ini. Sentimen utama datang dari sisi eksternal, terutama perkembangan hubungan Washington dan Teheran.
"Washington dan Teheran mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung antara keduanya akan berlanjut setelah apa yang mereka gambarkan sebagai diskusi positif yang diadakan di Oman pada hari Jumat. Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Sebelumnya, ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar membebankan premi risiko lebih besar pada harga minyak, terlebih setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tindakan militer terhadap Iran. Namun, dengan berlanjutnya jalur diplomasi, peluang terjadinya perang terbuka kini dinilai semakin kecil, meski Iran tetap menyatakan akan melanjutkan program pengayaan nuklirnya.
Selain faktor geopolitik, pasar global pekan ini juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting dari negara-negara konsumen minyak terbesar dunia. Di Amerika Serikat, perhatian tertuju pada data penggajian non-pertanian Januari yang dijadwalkan rilis Rabu, serta data inflasi konsumen (CPI) pada Jumat.
Data tersebut akan menjadi acuan pelaku pasar dalam membaca arah suku bunga ke depan, sekaligus mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Gubernur The Fed, Kevin Warsh.
Sementara itu dari Asia, Tiongkok akan merilis data CPI Januari pada Jumat, tepat menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek. Data ini diperkirakan memberi gambaran awal permintaan domestik di negara importir minyak terbesar dunia, yang secara musiman berpotensi mendorong peningkatan konsumsi bahan bakar.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut diperkuat oleh optimisme fiskal pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan penerimaan pajak tahun 2026 berpeluang melampaui target APBN sebesar Rp2.357,7 triliun, meskipun basis realisasi tahun sebelumnya relatif rendah dan sempat menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional.
Target penerimaan pajak 2026 tersebut setara pertumbuhan 7,69% dibandingkan target APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Namun realisasi penerimaan pajak tahun lalu hanya mencapai Rp1.917,6 triliun, sehingga pemerintah menghadapi tantangan untuk mengejar tambahan setoran sekitar Rp440,1 triliun atau tumbuh sekitar 22,9% dari basis realisasi 2025.
"Namun demikian, tampaknya Menkeu Purbaya tetap optimistis, tahun ini bisa mengumpulkan penerimaan pajak hingga melampaui target. Optimisme itu muncul usai realisasi penerimaan pajak Januari 2026 melonjak 30,8% (YoY)," ungkap Ibrahim.
Dukungan domestik juga datang dari sisi konsumsi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 tercatat naik 3,5 poin menjadi 127 dari posisi Desember 2025 di level 123,5. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam satu tahun terakhir dan mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ