- CPO Malaysia turun 0,29% ke 4.105 ringgit, tertekan soyoil dan kekhawatiran pasokan; pasar tunggu data ekspor.
- Sentimen negatif: harga kedelai melemah, libur China, potensi panen awal, dan aksi jual Indonesia.
- Penahan pelemahan: minyak mentah naik (dukung biodiesel); teknikal bidik 4.169-4.235 ringgit.
Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia melemah, Jumat, tertekan kejatuhan harga minyak kedelai (soyoil) serta kekhawatiran kelebihan produksi. Pelaku pasar juga menahan posisi sembari menunggu data ekspor terbaru sebagai petunjuk arah selanjutnya.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 12 ringgit atau 0,29% menjadi 4.105 ringgit (USD1.050,95) per metrik ton pada jeda perdagangan siang, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Jumat (20/2).
Meski terkoreksi, kontrak tersebut masih mencatat lonjakan sekitar 2% sepanjang minggu ini dan berpotensi memutus tren penurunan dua pekan beruntun.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, mengatakan pasar saat ini fokus pada data ekspor minyak sawit periode 1-20 Februari serta angka produksi, termasuk estimasi penuh satu bulan.
Perusahaan survei kargo dijadwalkan merilis estimasi ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-20 Februari pada hari yang sama, yang diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan harga dalam jangka pendek.
Bagani menambahkan, penurunan tajam basis harga soyoil Amerika Selatan turut menyeret harga CPO. Selain itu, absennya pasar China karena libur Tahun Baru Imlek serta kekhawatiran panen sawit lebih awal di Malaysia dan Indonesia menjelang Ramadan juga memberikan tekanan tambahan.
Dia juga menyoroti potensi aksi jual agresif dari eksportir Indonesia yang berupaya menghindari tambahan pungutan ekspor pada Maret, sebagai faktor lain yang membebani harga.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,5%, sementara Dalian Commodity Exchange tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Harga CPO kerap mengikuti pergerakan minyak pesaingnya, karena berkompetisi dalam pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru menguat di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Washington menyatakan Teheran akan menghadapi konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan terkait aktivitas nuklirnya dalam beberapa hari ke depan.
Kenaikan harga minyak mentah membuat sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi membatasi pelemahan lebih lanjut.
Sementara itu, mata uang ringgit--yang menjadi denominasi perdagangan minyak sawit--menguat tipis 0,03% terhadap dolar AS. Penguatan ini membuat CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Analis teknikal Reuters Wang Tao menyebut harga CPO berpotensi menguji level resistance di 4.169 ringgit per ton. Jika mampu menembus level tersebut, harga berpeluang naik menuju 4.235 ringgit per ton. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ