- Dolar AS melesat (terbaik sejak Oktober) didorong data kuat, sikap hawkish the Fed, dan tensi AS-Iran.
- Mayoritas mata uang melemah (euro, pound, AUD, NZD, yen) di tengah sentimen risk-off.
- Pasar tunggu data PCE & PDB AS; peluang pemangkasan suku bunga Juni menurun.
Ipotnews - Dolar AS bersiap menutup pekan ini dengan performa terkuat sejak Oktober, Jumat, didorong data ekonomi yang melampaui ekspektasi, sikap lebih hawkish dari Federal Reserve, serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan Asia, mayoritas mata uang bergerak dalam kisaran terbatas. Namun dolar Australia dan Selandia Baru melemah dalam perdagangan yang bergejolak, seiring sikap hati-hati investor menjelang akhir pekan, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (20/2).
Pelaku pasar enggan mengambil risiko di tengah kekhawatiran bahwa peningkatan kehadiran militer Amerika di Timur Tengah dapat memicu konflik dalam waktu dekat.
Dolar AS mempertahankan penguatannya setelah mendapat dorongan dari rilis data pada sesi sebelumnya. Data menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran baru turun lebih besar dari perkiraan, pekan lalu, mempertegas stabilitas pasar tenaga kerja.
Penguatan dolar membuat poundsterling bertahan di dekat level terendah satu bulan di USD1,3447 dan berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 1,5%.
Sementara itu, euro melemah 0,15% ke posisi USD1,1752 dan diperkirakan melorot hampir 1% sepanjang pekan ini. Mata uang tunggal tersebut juga terbebani ketidakpastian terkait masa jabatan Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde.
Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, mendekati puncak satu bulan yang dicapai Kamis lalu dan stabil di level 98,00. Sepanjang pekan, dolar berpotensi mencatat kenaikan lebih dari 1%, yang akan menjadi kinerja terbaiknya dalam lebih dari empat bulan terakhir.
Joseph Capurso, analis Commonwealth Bank of Australia, mengatakan penguatan dolar masih berpeluang berlanjut. Dia menyoroti risalah rapat the Fed pekan ini yang menunjukkan sejumlah pembuat kebijakan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
"Tidak akan mengejutkan jika dolar AS terus menguat untuk beberapa waktu ke depan," ujarnya.
Dolar juga mendapat dukungan sebagai aset safe-haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik. Presiden AS Donald Trump, Kamis, memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau menghadapi konsekuensi serius.
Dia memberi tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Teheran untuk bekerja sama. Iran merespons dengan menyatakan akan membalas serangan terhadap pangkalan Amerika di kawasan tersebut.
Menurut Capurso, eskalasi konflik berpotensi mengguncang pasar minyak dan valuta asing. "Jika situasi memburuk, itu bisa sangat memengaruhi pasar minyak dan mata uang. Ini juga akan menjadi ujian apakah dolar AS masih dianggap sebagai aset safe-haven," kata dia, seraya menambahkan bahwa serangan besar dapat mempertanyakan status tersebut.
Kebijakan Moneter
Dolar Australia melemah 0,3% ke posisi USD0,7038 akibat sentimen penghindaran risiko. Meski demikian, secara mingguan mata uang ini diperkirakan hanya turun kurang dari 0,5%, masih ditopang ekspektasi kebijakan suku bunga yang relatif hawkish di dalam negeri.
Sebaliknya, dolar Selandia Baru atau kiwi berada dalam tekanan lebih besar, menuju penurunan mingguan hampir 1,5%. Mata uang ini terbebani prospek kebijakan yang dovish dari Reserve Bank of New Zealand, setelah serangkaian pemangkasan suku bunga dalam setahun terakhir mengejutkan investor yang sebelumnya berspekulasi pada pengetatan kebijakan. Kiwi terakhir diperdagangkan turun 0,4% menjadi USD0,5950.
Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS serta data awal produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat, yang diperkirakan menentukan arah pergerakan mata uang berikutnya.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, investor masih memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga the Fed tahun ini. Namun probabilitas pemotongan pada Juni turun menjadi sekitar 58% dari 62% sepekan lalu.
Chris Zaccarelli, Kepala Investasi Northlight Asset Management, mengatakan perdebatan utama di internal the Fed adalah apakah perlu memangkas suku bunga secara proaktif untuk mendukung pasar tenaga kerja atau mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama guna memerangi inflasi. "Laporan PCE hari ini akan menambah intensitas perdebatan tersebut," ujarnya.
Di Jepang, yen melemah lebih dari 0,2% ke level 155,33 per dolar AS. Data menunjukkan inflasi konsumen inti tahunan Jepang mencapai 2,0% pada Januari, laju paling lambat dalam dua tahun terakhir.
Abhijit Surya, ekonom Capital Economics, menilai data tersebut tidak cukup kuat untuk mendorong Bank of Japan melanjutkan siklus pengetatan kebijakan moneternya, terutama di tengah pemulihan ekonomi yang masih lesu pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, mata uang tersebut nyaris tidak bereaksi terhadap pidato Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menegaskan komitmen pemerintahannya untuk merevitalisasi perekonomian. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ