Bagi Singapore Airlines (SIA) Group, langit biru yang membentang luas kini bukan sekadar mobilitas udara, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijaga. Sebagai salah satu pemain utama di industri penerbangan global, SIA menyadari bahwa jejak karbon memerlukan penanganan serius demi memerangi perubahan iklim yang kian mendesak.
Langkah ini diambil sebagai bentuk transformasi fundamental dalam menghadapi dinamika bisnis yang kian menantang. Kini, perubahan iklim telah menjadi variabel yang menentukan bagaimana industri aviasi harus beroperasi, mengalokasikan investasi, hingga merancang strategi jangka panjang demi masa depan penerbangan yang lebih hijau.
Demi memperkuat visi keberlanjutan (sustainability) tersebut, SIA Group memfokuskan strateginya pada pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar alternatif ini dipandang sebagai solusi paling efektif saat ini karena diklaim mampu mereduksi emisi gas rumah kaca hingga 80% sepanjang siklus hidupnya, serta memberikan dampak signifikan bagi pengurangan polusi udara di jalur penerbangan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang setahun terakhir, SIA Group yang menaungi maskapai Singapore Airlines dan Scoot telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan teknologi iklim global, seperti Aether Fuels, Neste, dan World Energy. Kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk mencapai target penggunaan 5% SAF pada tahun 2030, sekaligus menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ambisi besar nol emisi karbon (net zero emission) pada tahun 2050 mendatang.
Baca juga: Anak Singapore Airlines Layani Kualanamu-Singapura Mulai Februari 2026 |
Investasi Hijau dan Strategi Dekarbonisasi 2050
Salah satu langkah paling visioner yang diambil SIA Group adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Aether Fuels, sebuah perusahaan teknologi iklim yang didirikan Xora dan didukung oleh Temasek.
Kemitraan ini bukan sekadar transaksi jual-beli biasa, melainkan sebuah investasi hijau jangka panjang Singapore Airlines dalam memperkuat ekosistem teknologi bahan baku bio-avtur mereka di masa depan.
Dalam perjanjian tersebut, SIA Group berkomitmen untuk membeli SAF murni dari Aether Fuels selama lima tahun sejak produksi komersial dimulai, dengan opsi perpanjangan lima tahun berikutnya.
Menurut Chief Sustainability Officer Singapore Airlines, Lee Wen Fen, kemitraan ini merupakan langkah strategis dalam perjalanan SIA Group mencapai tujuan dekarbonisasi jangka panjang, yaitu mencapai emisi karbon nol pada tahun 2050.
"Melalui kolaborasi dengan mitra ekosistem yang sejalan dengan kami seperti Aether, kami bertujuan untuk mempercepat dan meningkatkan adopsi SAF dalam operasional penerbangan kami, serta membangun fondasi bagi masa depan perjalanan udara yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
Foto: Dok. REUTERS/Regis Duvignau |
Aether Aurora™: Ubah Limbah Karbon Jadi SAF Secara Efisien
Apa yang membuat kolaborasi ini istimewa adalah penggunaan teknologi Aether Aurora™. Teknologi ini memungkinkan produksi SAF dari bahan baku karbon limbah dengan cara yang jauh lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
Metode teknologi ini dinilai mampu mengurangi biaya modal, meningkatkan efisiensi produksi, dan menghasilkan SAF yang lebih banyak dibandingkan dengan teknik yang sudah ada.
Selain itu, pabrik produksi Aether yang akan didirikan di Amerika Serikat dan Asia Tenggara ini akan menghasilkan SAF yang bersertifikasi Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA).
Hal ini membuat Chief Executive Officer Aether Fuels, Conor Madigan, menyatakan rasa bangganya karena dapat bergabung dengan ekosistem inovator teknologi SAF seperti SIA Group.
"Tujuan dekarbonisasi mereka menginspirasi inovasi di seluruh rantai pasok dan mendorong perusahaan seperti Aether untuk mengembangkan solusi yang menggabungkan teknologi dengan strategi bahan baku generasi berikutnya. Kolaborasi ini akan memperdalam pemahaman kami tentang prioritas pelanggan dan pasar SAF, khususnya di Asia Tenggara," ujar Madigan.
Baca juga: Maskapai Indonesia Airlines Bakal Hadir, Ternyata Asal Singapura |
Memperkuat Rantai Pasok Energi Hijau di Singapura
Langkah konkret yang dilakukan SIA Group selanjutnya adalah kolaborasi dengan produsen bahan bakar terkemuka Neste. Dalam transaksi pertamanya, SIA Group berhasil mengakuisisi 1.000 ton SAF murni yang diproduksi langsung di kilang Neste di Singapura.
Keputusan untuk menyerap SAF dari produksi lokal ini memiliki nilai strategis ganda. Pertama, SAF tersebut dicampur secara lokal dan dikirimkan langsung ke Bandara Changi, yang secara signifikan mengurangi jejak karbon dari sisi logistik pengiriman bahan bakar itu sendiri.
Kedua, langkah ini memperkuat ketahanan rantai pasok energi hijau di Singapura, menjadikan negara kota tersebut sebagai pusat (hub) aviasi berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.
Langkah ini membuktikan bahwa ekosistem SAF bukan lagi sekadar konsep di atas kertas, melainkan sebuah realitas operasional yang siap mendukung penerbangan komersial harian.
Foto: Singapore Airlines |
Book & Claim: Hak Atas Pengurangan Emisi
Memahami bahwa ketersediaan fisik SAF di seluruh dunia masih terbatas, SIA Group menunjukkan fleksibilitasnya dengan menggandeng World Energy, produsen SAF asal Amerika Serikat. Dalam transaksi ini, SIA menggunakan model Book & Claim Chain of Custody.
Melalui model ini, SIA Group membeli sekitar 2.000 ton SAF dalam bentuk sertifikat pengurangan emisi. Secara fisik, bahan bakar tersebut mungkin digunakan oleh pesawat lain di dekat lokasi produksi World Energy di AS, namun hak atas pengurangan emisi tersebut diklaim oleh SIA Group.
Model ini sangat efisien karena:
- Menghilangkan Kendala Geografis: Maskapai dapat mendukung produksi SAF meskipun pabriknya berada jauh dari rute penerbangan mereka.
- Mendorong Investasi: Memberikan kepastian pendapatan bagi produsen SAF untuk terus memperluas kapasitas produksi mereka.
- Transparansi Emisi: Tetap memenuhi standar ketat CORSIA dalam pelaporan dekarbonisasi.
Secara total, transaksi dengan Neste dan World Energy pada kuartal pertama 2025 ini diperkirakan akan memangkas lebih dari 9.500 ton emisi karbon dioksida.
Baca juga: Langkah Nyata Dekarbonisasi, SAF Jadi Masa Depan Aviasi Nasional |
Membangun Kesadaran Kolektif Lewat Kampanye Green Fuel Forward
SIA Group juga menyadari bahwa dekarbonisasi tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, maskapai berbendera Singapura ini aktif berpartisipasi dalam kampanye Green Fuel Forward. Inisiatif yang diluncurkan oleh World Economic Forum dan GenZero Singapura ini bertujuan untuk memacu permintaan SAF di tingkat regional.
Dengan membangun kemitraan antara perusahaan korporat (sebagai pengguna jasa penerbangan) dan maskapai, kampanye ini berupaya menciptakan ekosistem di mana biaya 'premi hijau' dari SAF dapat ditanggung bersama melalui mekanisme sertifikat karbon yang transparan.
"Melalui kolaborasi dengan berbagai pemasok dan mengeksplorasi berbagai model pengadaan, kami memperoleh pemahaman mendalam mengenai jalur menuju ekosistem penerbangan yang lebih berkelanjutan," ungkap Lee Wen Fen, Chief Sustainability Officer Singapore Airlines.
Foto: AFP via Getty Images/ROSLAN RAHMAN |
Melirik Minyak Jelantah Dapur MBG untuk Bahan Baku SAF
Tak berhenti di situ, Singapore Airlines juga disebut melirik minyak jelantah sisa dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia untuk digunakan sebagai bahan baku bio-avtur. Hal ini diungkap oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana pada acara Konferensi Pembangunan Berkelanjutan.
Dadan mengklaim maskapai Singapore Airlines berminat untuk membeli minyak jelantah yang dihasilkan oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG.
Diketahui, saat ini sudah terbentuk 15.363 SPPG yang tersebar di 7.022 kecamatan, di 509 kabupaten dan di 38 provinsi di Indonesia. Setiap SPPG bisa menggunakan 800 liter minyak goreng setiap bulan dan 70 persennya menjadi minyak jelantah.
"Ini jelantahnya tidak dibuang, ditampung oleh para entrepreneur dan kemudian diekspor dengan harga yang dua kali lipat karena salah satu penggunanya adalah Singapore Airlines," kata Dadan saat di kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Jika hal ini benar dilakukan, ketertarikan Singapore Airlines terhadap minyak jelantah dari program MBG akan membuktikan bahwa inisiatif sosial berskala besar dapat menjadi motor penggerak ekonomi hijau global.
Melalui kolaborasi itu, Singapore Airlines juga membantu Indonesia tidak hanya sedang menyehatkan generasinya, tetapi juga sedang menyuplai energi bersih untuk masa depan penerbangan dunia.
Komitmen Keberlanjutan Singapore Airlines
Kemitraan teknologi dengan Aether Fuels, pengadaan lokal dengan Neste, dan inovasi pengadaan dengan World Energy serta isu suplai bahan baku bio-avtur dari Indonesia ini menunjukkan pendekatan holistik Singapore Airlines Group terhadap isu perubahan iklim.
SIA tidak hanya menjadi pembeli pasif, tetapi juga berperan sebagai katalisator inovasi. Dengan mendukung teknologi baru seperti Aether Aurora™ dan mengadopsi sistem Book & Claim, SIA Group memastikan bahwa mereka siap menghadapi masa depan di mana bahan bakar fosil tidak lagi menjadi pilihan utama.
Perjalanan menuju emisi nol bersih di tahun 2050 memang masih panjang dan penuh tantangan teknis maupun ekonomi. Namun, dengan langkah-langkah konkret yang diambil hari ini, Singapore Airlines Group memberikan pesan kuat kepada dunia: bahwa perjalanan udara yang mewah dan efisien dapat berjalan selaras dengan kelestarian bumi.
(akd/akd)Được in lại từ republika_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.




Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ