Sawit Tersungkur Lagi, Dipicu Apresiasi Ringgit dan Data Ekspor Suram

avatar
· Views 1,517
  • Harga CPO turun, tertekan penguatan ringgit dan ekspor yang lemah.
  • Ekspor minyak sawit Malaysia turun 8,9%-12,6%, ringgit kuat tekan daya saing.
  • Analis prediksi harga CPO bisa kembali ke level tertinggi akibat sentimen positif minyak nabati.

Ipotnews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia melemah untuk sesi ketiga berturut-turut, Selasa, terbebani penguatan ringgit serta data ekspor yang menunjukkan kinerja yang lemah.
Kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 12 ringgit, atau 0,29%, menjadi 4.071 ringgit (USD1.043,85) per ton metrik pada jeda tengah hari, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Selasa (24/2).
Selama sesi pagi, harga kontrak tersebut bergerak di kisaran 4.071 hingga 4.117 ringgit per ton.
Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, pialang yang berbasis di Selangor, mengatakan pasar saat ini sedang mencari arah baru. "Tidak ada banyak berita yang dapat menggerakkan pasar," ujar Supramaniam, menambahkan bahwa penguatan ringgit dan data ekspor yang buruk memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1-20 Februari diperkirakan merosot antara 8,9% hingga 12,6% dibandingkan bulan sebelumnya, menurut data dari surveior kargo Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia.
Meski ringgit Malaysia mengalami penurunan 0,18% terhadap dolar AS, mata uang ini tetap diperdagangkan di sekitar level terkuatnya sejak April 2018, yang memberikan tekanan pada harga minyak sawit.
Ringgit yang kuat membuat harga CPO lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya, yang pada gilirannya dapat mengurangi daya saing ekspor Malaysia.
Di pasar global, minyak kedelai Dalian, China, mencatatkan lompatan 1,09%, sementara kontrak minyak sawitnya juga menguat 1,03%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai naik 0,1%.
Harga CPO mengikuti pergerakan minyak pesaing lainnya, karena berkompetisi dalam merebut pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Meski CPO mengalami tekanan, beberapa analis memperkirakan harga dapat kembali menguji level tertinggi yang tercatat pada 20 Februari, yakni 4.156 ringgit per ton. Hal ini kemungkinan akan didorong pola pergerakan pasar yang dipengaruhi sentimen positif terhadap harga minyak nabati lainnya. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest