- Harga minyak naik karena risiko pasokan terkait ketegangan AS-Iran.
- Geopolitik dan eskalasi militer dorong harga minyak mendekati level tertinggi tujuh bulan.
- Kebijakan tarif Trump tambahkan ketidakpastian pasar dan pengaruh pada permintaan bahan bakar.
Ipotnews - Harga minyak menguat, Selasa, mendekati level tertinggi tujuh bulan, dengan trader menganalisis potensi risiko pasokan akibat kemungkinan eskalasi militer, seiring dengan perundingan nuklir Amerika-Iran yang semakin dekat.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 47 sen, atau 0,66%, menjadi USD71,96 per barel pada pukul 14.19 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Singapura, Selasa (24/2).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meningkat 46 sen, atau 0,69%, menjadi USD66,77 per barel. Harga Brent saat ini berada pada level tertinggi sejak 31 Juli, sementara WTI berada di posisi terkuatnya sejak 1 Agustus.
Priyanka Sachdeva, analis Phillip Nova, mengatakan, "Pada tahap ini, geopolitik jelas memainkan peran utama dalam mengangkat harga minyak, dengan penguatan harga saat ini sebagian besar didorong oleh antisipasi, bukan oleh hilangnya pasokan yang sebenarnya."
"Risiko kemungkinan eskalasi militer di Timur Tengah semakin meningkat, dan oleh karena itu, trader tampaknya bersiap menghadapi skenario terburuk."
Iran dan Amerika akan mengadakan putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa, Kamis, menurut Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang mengungkapkan hal tersebut pada Minggu.
Amerika Serikat menginginkan Iran untuk menghentikan program nuklirnya, namun Teheran tetap bersikeras menolak tuduhan tersebut dan membantah bahwa mereka tengah berusaha mengembangkan senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri AS juga mengumumkan penarikan personel pemerintah non-esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar di Beirut, Lebanon, menyusul kekhawatiran yang semakin meningkat akan risiko terjadinya konflik militer dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan di media sosial, Senin, bahwa "akan menjadi hari yang sangat buruk" bagi Iran jika mereka tidak mencapai kesepakatan.
Kelvin Wong, analis OANDA, mengatakan, "Dalam jangka pendek, faktor geopolitik terkait konflik AS-Iran kemungkinan akan menjadi penggerak utama harga minyak."
"Untuk saat ini, minyak WTI menunjukkan dinamika bullish jangka pendek, bertahan di atas rata-rata pergerakan 20-hari (MA20), yang berfungsi sebagai level support utama jangka pendek di USD63,90 per barel."
Di sisi lain, kebijakan perdagangan Trump juga turut memengaruhi sentimen pasar. Kemarin, Trump memperingatkan negara-negara agar tidak mundur dari kesepakatan dagang yang baru-baru ini dinegosiasikan dengan Amerika setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif daruratnya. Trump menegaskan negara-negara tersebut akan dikenakan tarif lebih tinggi dengan undang-undang perdagangan yang berbeda.
"Presiden AS Donald Trump menciptakan ketidakpastian bagi pertumbuhan global dan permintaan bahan bakar dengan putaran kenaikan tarif baru," ujar analis UOB Bank.
Trump mengumumkan pada Sabtu bahwa tarif sementara akan dinaikkan dari 10% menjadi 15% pada impor AS dari seluruh negara, yang merupakan level maksimum yang diizinkan menurut hukum. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ