Ditopang Sentimen Moody`s Beri Peringkat Baa2 Pada Obligasi RI, Rupiah Ditutup Menguat Meski Terbatas

avatar
· Views 1,751
  • Rupiah menguat 0,17% ke Rp16.800 per dolar AS, ditopang peringkat Baa2 Moody's atas obligasi RI senilai USD10 miliar.
  • Tekanan eksternal berlanjut dari tarif impor AS, tensi AS-Iran, dan sinyal suku bunga The Fed tetap tinggi.
  • Fundamental RI dinilai solid dengan pertumbuhan ~5% dan defisit <3% PDB, namun risiko fiskal dan ketidakpastian kebijakan masih membayangi.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terbatas pada perdagangan Rabu (25/2), ditopang sentimen positif dari penilaian Moody's Ratings terhadap obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi Chinese Yuan Offshore (CNH) dan euro senilai USD10 miliar.
Berdasarkan data Bloomberg Rabu sore ini pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup menguat 29 poin atau 0,17% ke level Rp16.800 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Selasa (24/2) di Rp16.829 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dari sisi eksternal, pelaku pasar masih dibayangi kebijakan tarif Amerika Serikat.
"Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% pada hari Selasa, dengan pemerintahan Trump berupaya meningkatkan tarif tersebut menjadi 15%, sebuah langkah yang telah memicu ketidakpastian atas perdagangan global dan inflasi," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut merupakan respons atas dinamika hukum di AS. Tindakan tarif ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS pekan lalu yang membatalkan bea masuk besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan berdasarkan kekuasaan darurat, mendorong Washington untuk memperkenalkan kembali tarif berdasarkan otoritas hukum alternatif.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. "Ketegangan geopolitik juga tetap menjadi fokus, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kedua pihak akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan pada hari Kamis di Jenewa di tengah meningkatnya ketegangan atas potensi bentrokan militer antara Washington dan Teheran," jelas Ibrahim.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi di AS turut membatasi ruang penguatan mata uang emerging market. Namun, ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, pada hari Selasa mengatakan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah 'untuk beberapa waktu' karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, sementara risiko inflasi tetap ada, menurut Bloomberg.
"Ketua Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dengan alasan suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih di atas mandat 2% Fed. Ketua Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, menggemakan sikap tersebut, menggarisbawahi perlunya menjaga inflasi tetap menjadi fokus utama," ungkap Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari penilaian lembaga pemeringkat global. Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai USD10 miliar.
"Secara fundamental, Moody's masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah," sebut Ibrahim.
Ibrahim menambahkan Moody's memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan adanya sejumlah catatan karena stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody's secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif.
"Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing," tambah Ibrahim.
Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.
Namun, terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah, terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan.
Moody's memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB, atau masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest