Mata Uang dan Saham EM Asia Melemah Tertekan Konflik Iran

avatar
· Views 495
  • Mata uang dan saham emerging market melemah pada awal perdagangan Asia, dipicu kekhawatiran konflik Iran dan lonjakan harga minyak.
  • Indeks mata uang EM turun 0,5% untuk hari kedua beruntun, sementara saham EM terkoreksi hingga 1% seiring penguatan dolar dan emas.
  • Eskalasi konflik menekan aset berisiko, terutama di negara pengimpor minyak, meski saham energi dan pelayaran justru menguat.

Ipotnews - Mata uang dan saham  emerging market  melemah pada sesi pembukaan perdagangan Asia, Senin (2/3). Kekhawatiran konflik Iran dan lonjakan harga minyak membebani sentimen terhadap aset berisiko.
Laman Bloomberg melaporkan, indeks mata uang negara berkembang turun 0,5%, mencatat penurunan untuk sesi kedua berturut-turut, seiring penguatan dolar AS. Peso Filipina dan dolar Taiwan menjadi yang terlemah di antara mata uang sejenis. Pasar Korea Selatan tutup karena hari libur.
Saham EM juga terkoreksi hingga 1%, penurunan terdalam dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Eskalasi ketegangan di Iran yang meluas ke kawasan telah mengganggu berbagai sektor, mulai dari minyak dan pelayaran hingga transportasi udara. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum memangkas kenaikan. Dolar AS dan emas menguat karena investor memburu aset aman.
Kondisi ini semakin menekan mata uang EM dan memicu kekhawatiran inflasi. Laman Reuters melaporkan, Banl Indonesia terus memantau pergerakan pasar secara ketat sebagai respons terhadap konflik di Timur Tengah, dan akan mengambil langkah yang tepat untuk memastikan rupiah bergerak sejalan dengan fundamental.
"Ini adalah guncangan yang mendorong pelemahan  emerging market ," kata Brendan McKenna, ahli strategi pasar berkembang di Wells Fargo, New York. Ia menambahkan respons Iran kali ini lebih agresif dibanding sebelumnya, dengan Selat Hormuz praktis tertutup dan kerja sama AS-Israel yang semakin intensif.
"Guncangan ini, dikombinasikan dengan tema bahwa aset EM sudah dinilai mahal dan terlalu banyak dimiliki pada level saat ini, berpotensi memicu aksi jual pada hari-hari awal konflik," ujarnya kepada Bloomberg.
Menurut Sim Moh Siong dan Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp, negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak seperti Korea Selatan, Taiwan, India, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami kinerja mata uang yang lebih buruk.
Eskalasi konflik juga mendorong kenaikan saham energi, pelayaran, pertahanan, dan emas di Asia, sementara saham maskapai, perjalanan, dan saham pertumbuhan tertekan. Saham perusahaan pelayaran Taiwan, Wan Hai Lines dan Evergreen Marine, menguat, sedangkan Singapore Airlines, Japan Airlines, dan EVA Airways melemah. (Bloomberg)
Mata Uang dan Saham EM Asia Melemah Tertekan Konflik Iran

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest