Rupiah Tertekan ke 16.860-an, Inflasi Melonjak dan Surplus Dagang Menyusut, Fokus ke PMI Manufaktur AS

avatar
· Views 627
  • USD/IDR naik 0,64% ke 16.862,9, mendekati batas atas rentang harian.
  • Inflasi domestik melonjak, surplus dagang menyusut.
  • Fokus beralih ke data ISM AS yang berpotensi memperkuat dolar.

Rupiah bergerak melemah pada perdagangan Senin siang setelah rangkaian data domestik memberi sinyal tekanan harga yang kembali meningkat di tengah bantalan eksternal yang menipis. Hingga sekitar di awal sesi Eropa, pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di kisaran 16.862,9, naik sekitar 0,64% dibanding penutupan sebelumnya di 16.755. Laju ini membawa kurs mendekati batas atas rentang dalam perdagangan harian 16.866,3, mencerminkan respons pasar yang cenderung berhati-hati terhadap kombinasi indikator terbaru.

Inflasi tahunan Februari melonjak ke 4,76% dari 3,55%, sementara inflasi inti naik tipis ke 2,63% dari 2,45%. Secara bulanan, harga meningkat 0,68% setelah sebelumnya mengalami deflasi 0,15%. Lonjakan ini mengindikasikan tekanan harga mulai kembali menguat, meski komponen inti masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Di sisi lain, surplus neraca dagang Januari menyempit menjadi USD0,95 miliar dari USD2,52 miliar, seiring perlambatan pertumbuhan ekspor ke 3,39% dan percepatan impor ke 18,21%. Kombinasi ini memperlihatkan permintaan domestik yang tetap aktif, namun dengan penyangga eksternal yang lebih terbatas.

Sektor riil masih menunjukkan ketahanan. PMI manufaktur Februari naik ke 53,8 dari 52,6, menandakan ekspansi berlanjut. Namun bagi pelaku pasar, campuran inflasi yang lebih tinggi dan surplus yang mengecil mendorong penyesuaian ekspektasi kebijakan, khususnya terkait ruang pelonggaran moneter ke depan.

Dari eksternal, data Amerika Serikat turut membentuk sentimen. Indeks Harga Produsen (IHP) tahunan Januari tercatat 2,9%, sedikit turun dari 3% namun melampaui ekspektasi 2,6%. Secara bulanan, IHP naik 0,5%, sementara komponen inti meningkat 3,6% secara tahunan, lebih tinggi dari prakiraan 3%. Tekanan harga di tingkat produsen AS yang belum sepenuhnya surut berpotensi menjaga dolar tetap kuat dan mempersempit ruang pemulihan rupiah.

Fokus pasar beralih ke rilis ISM AS malam ini, termasuk PMI manufaktur Februari (konsensus 52,3; sebelumnya 52,6), Pesanan Baru (57,1), Keternagakerjaan (48,1), dan Harga Dibayar (59,5). Komponen harga yang masih tinggi dapat menegaskan tekanan inflasi sektor manufaktur belum sepenuhnya reda.

Jika hasilnya melampaui ekspektasi – terutama PMI utama dan Prices Paid â dolar berpotensi tetap solid dan menekan rupiah. Sebaliknya, angka yang lebih lemah dapat memberi ruang stabilisasi jangka pendek bagi mata uang domestik.

Secara teknis, area 16.850-16.900 menjadi zona uji jangka pendek. Apabila permintaan dolar berlanjut, peluang menuju level psikologis 17.000 kembali terbuka. Sebaliknya, stabilisasi dapat terbentuk jika pasar menilai lonjakan inflasi domestik bersifat sementara dan arus masuk kembali menguat dalam beberapa sesi mendatang.

Indikator Ekonomi

PMI Manufaktur ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sen Mar 02, 2026 15.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 52.3

Sebelumnya: 52.6

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.

Bagikan: Pasokan berita

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest