- Emas spot jatuh 3,6% ke USD5.137 per ons akibat dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik.
- Lonjakan harga minyak dan risiko inflasi menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
- Perak, platinum, dan paladium ikut merosot tajam.
Ipotnews - Harga emas terkoreksi, Selasa, tertekan penguatan dolar AS serta memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Harga emas spot anjlok 3,6 persen menjadi USD5.137,00 per ons pada pukul 02.07 WIB, setelah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan pada sesi sebelumnya, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Selasa (3/3) atau Rabu (4/3) dini hari WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman ditutup merosot 3,5 persen ke posisi USD5.123,70 per ons.
Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures, mengatakan penurunan emas kali ini dipicu oleh pergeseran investor menuju likuiditas tunai. "Pergerakan turun emas tampaknya didorong oleh flight to liquidity--investor beralih ke kas. Dolar menguat dan imbal hasil obligasi juga naik," ujarnya.
Penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven pesaing emas membuat logam mulia berdenominasi greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat bersamaan, imbal hasil US Treasury naik untuk sesi kedua berturut-turut, menambah tekanan pada logam kuning yang tidak memberikan bunga.
Meski demikian, Haberkorn menilai koreksi harga ini berpotensi bersifat sementara. Menurutnya, arus lindung nilai (safe-haven) akibat risiko geopolitik masih dapat menopang harga emas dan perak dalam jangka menengah.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah konflik Iran memasuki hari keempat, ditandai ledakan di Teheran dan Beirut. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran, Senin, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Merespons perkembangan tersebut, harga minyak mentah melonjak lebih dari 8 persen pada Selasa.
Menurut Fawad Razaqzada, analis City Index dan FOREX.com, gangguan terhadap infrastruktur energi dan terhambatnya lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz meningkatkan risiko penguatan berkelanjutan pada harga minyak, gas, dan produk olahan. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong mundurnya ekspektasi pemangkasan suku bunga, sehingga membatasi ruang penguatan emas.
Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, emas umumnya lebih diminati dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil.
Sepanjang tahun ini, harga emas spot masih mencatat kenaikan sekitar 19 persen, didorong gejolak global, setelah meroket 64 persen pada 2025.
Harga perak spot ambles 6,6 persen menjadi USD83,50 per ons, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi lebih dari empat pekan pada Senin. Meski terkoreksi, perak masih melejit lebih dari 16 persen sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, platinum merosot 8,4 persen jadi USD2.108,51 per ons dan paladium melorot 5,6 persen ke posisi USD1.667,41 per ons. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ