Emas Kembali Bersinar di Tengah Turunnya Harga Minyak dan Pelemahan Dolar

avatar
· Views 1,150
  • Harga emas naik hampir 2% dipicu depresiasi dolar dan kejatuhan harga minyak.
  • Pernyataan Donald Trump soal potensi berakhirnya konflik Timur Tengah ikut mendorong sentimen pasar.
  • Pasar menanti data inflasi dan arah suku bunga the Fed.

Ipotnews - Harga emas melambung hampir 2 persen, Selasa, karena melemahnya dolar AS dan meredanya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak melorot. Penurunan harga energi terjadi seiring sinyal bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir, yang meningkatkan sentimen investor terhadap pasar komoditas.
Emas spot melonjak 1,9 persen menjadi USD5.231,79 per ons pada pukul 24.31 WIB, sementara harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman April ditutup melesat 2,7 persen jadi USD5.242,10 per ons, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Selasa (10/3) atau Selasa (11/3) dini hari WIB.
Indeks Dolar (Indeks DXY) melemah, membuat emas yang dihargakan dalam greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan global terhadap logam mulia tersebut.
Pergerakan harga emas juga berkaitan erat dengan dinamika harga minyak dunia. Selasa, harga minyak anjlok setelah pada sesi sebelumnya sempat melejit ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Penurunan terjadi setelah Presiden Donald Trump memprediksi perang di Timur Tengah dapat segera berakhir, sehingga meredakan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.
Namun situasi di lapangan masih menunjukkan intensitas konflik yang tinggi. Warga Teheran yang dihubungi  Reuters  melaporkan ibu kota Iran mengalami serangan udara besar-besaran oleh Amerika dan Israel sepanjang malam. Serangan itu disebut sebagai yang paling sengit sejak konflik dimulai.
Menurut Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, penurunan harga minyak dari puncaknya di atas USD100 per barel memberikan sinyal yang relatif positif bagi pasar. Dia menjelaskan, harga energi yang masih cukup tinggi tetap bersifat inflasioner dan mendukung kenaikan logam kuning, tetapi tidak lagi cukup tinggi untuk menghambat kemampuan Federal Reserve dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun daya tarik logam tersebut biasanya berkurang ketika suku bunga meningkat karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk laporan Indeks Harga Konsumen dan data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures Price Index yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter the Fed.
Pasar saat ini memperkirakan the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 17-18 Maret, sembari menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai tren inflasi dan kondisi ekonomi.
Sementara itu, perdagangan emas fisik di Dubai tercatat berada pada posisi diskon dibandingkan pasar London. Kondisi ini dipicu keterbatasan penerbangan akibat konflik di kawasan tersebut, yang menyebabkan lebih banyak logam mulia tertahan di pasar lokal sementara permintaan relatif lemah.
Logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan beragam. Harga perak spot melonjak 2,7 persen menjadi USD89,39 per ons. Platinum spot menguat 2,2 persen ke posisi USD2.229,15 per ons. Sebaliknya, paladium justru turun 0,9 persen jadi USD1.675,50 per ons. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest