Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan belum menetapkan kebijakan pengenaan tarif bea keluar terhadap komoditas batu bara. Padahal Bendahara Negara itu sebelumnya menjanjikan beleid akan terbit dan dijalankan mulai Januari 2026.
Purbaya mengatakan alasan kebijakan bea keluar batu bara belum diberlakukan karena masih ada pihak yang protes. Ia menjanjikan akan membereskan permasalahan tersebut agar bisa segera dijalankan.
"Masiih ada yang protes, itu saja. Nanti kita beresin," kata Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan pihaknya masih melakukan finalisasi terhadap aturan bea keluar batu bara.
"Kami sedang finalkan, akan segera diumumkan. Kami harapkan akan ada kontribusi untuk penerimaan negara," ucap Febrio, Rabu (11/3/2026).
Febrio menyebut tren kenaikan harga batu bara di pasar global turut menjadi perhatian pemerintah. Dia mengakui pemerintah juga ingin memanfaatkan momentum kenaikan harga tersebut untuk mendorong penerimaan negara.
Pada akhir 2025, Purbaya telah membocorkan bahwa tarif pengenaan bea keluar batu bara akan dikenakan sesuai dengan harga batu bara yang berlaku. Tarif untuk bea keluar itu disebut akan berada pada kisaran 5%, 8%, hingga 11%.
"Kalau nggak salah sih diusulkan tergantung harga batu baranya ya. Ada 5%, ada 8%, ada 11% tergantung level harga batu baranya," imbuhnya.
(aid/fdl)Được in lại từ republika_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ