Kesempatan berkarya di proyek internasional biasanya identik dengan profesional, termasuk mereka yang telah lama berkecimpung di industri kreatif.
Namun, pengalaman berbeda dirasakan oleh siswi Program Keahlian Animasi, Konsentrasi Animasi 3D, di SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus Ferena Hasna Kamila.
Saat masih duduk di bangku sekolah, ia sudah terlibat dalam proyek animasi global yang diproduksi oleh studio luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferena yang berasal dari Tangerang Selatan (Tangsel) mengaku awalnya mengetahui sekolah tersebut dari sang ayah.
Ia kemudian mencari informasi lebih lanjut melalui berbagai sumber, termasuk video dari para kreator yang membahas sekolah tersebut.
"Awalnya ayah saya mengirimkan beberapa link tentang SMK Raden Umar Said. Saya juga melihat dari YouTube dan merasa tertarik karena bidang animasi terlihat menjanjikan," ujar Ferena, kepada rekan media, Kamis (12/3/2026).
"Akhirnya saya mencoba mendaftar dan diterima di sini," sambungnya.
Selama sekolah, ia turut merasakan sejumlah tantangan saat beradaptasi sebagai siswa dari luar kota.
"Ini pertama kali saya tinggal sendiri jauh dari rumah. Tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru dan belajar menyelesaikan masalah sendiri. Tapi guru dan mentor di sini sangat membantu kami untuk beradaptasi," ungkap Ferena.
Lebih lanjut, selama sekolah, Ferena tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga praktik. Kesempatan terlibat dalam proyek internasional datang ketika Ferena memasuki masa praktik kerja lapangan (PKL).
Pada periode kelas 11 akhir hingga awal kelas 12, ia ikut mengerjakan proyek animasi berjudul 'Fia Fairies' yang diproduksi oleh studio dari Irlandia untuk season kedua.
Dalam proyek tersebut, sistem kerja yang diterapkan menyerupai standar industri profesional. Para siswa menerima tugas dari supervisor yang kemudian melalui proses evaluasi dan revisi berlapis.
"Sistemnya, informasi tentang proyek ini dari supervisor. Mereka akan ngasih kita (siswa) kerjaan dan alurnya. Nanti setelah dikerjakan, kita juga tetap ada revisi dari supervisor sini (Indonesia), baru, baru diteruskan ke klien luar negeri. Jika dari klien ada revisi lagi, materi akan dikembalikan lagi untuk kita kerjakan revisinya," kata Ferena.
Proses pengerjaan proyek 'Fia Fairies' tersebut berlangsung cukup panjang, yakni sekitar tiga hingga tujuh bulan. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah menyesuaikan standar kerja industri di tingkat internasional, termasuk memahami instruksi teknis yang terkadang menggunakan istilah berbeda.
"Karena ini proyek dari luar negeri, kadang ada istilah atau penggunaan bahasa yang berbeda. Kami harus menyesuaikan lagi dengan database dan standar yang mereka gunakan," kata Ferena.
Ferena juga menilai fasilitas yang tersedia di sekolah menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan siswa terlibat dalam proyek global. Ia menyebut dukungan sarana dan prasarana yang diberikan sekolah melalui kemitraan dengan Djarum Foundation sangat membantu proses pembelajaran.
"Di sini, kalau dari yang saya rasakan, bisa dibilang kan SMK Raden Umar Said yang bermitra dengan Djarum Foundation ini punya fasilitas yang emang sangat bagus juga. Kita bisa ngerjain proyek dari luar (negeri) dengan dukungan fasilitas yang sangat bagus," ujar Ferena.
Dalam praktiknya, para siswa tidak bekerja sendirian di proyek yang dikerjakan. Mereka dibimbing oleh supervisor sebagai tenaga profesional yang telah memiliki pengalaman di berbagai studio animasi.
Tidak hanya memberikan informasi dan membimbing siswa terkait alur pengerjaan proyek, para supervisor tersebut juga memberi masukan teknis untuk pengerjaan masing-masing bagian dalam produksi animasi, di studio yang berada di lingkungan sekolah.
"Supervisor di sini sudah punya pengalaman profesional di industri. Jadi kami benar-benar dibimbing seperti bekerja di studio animasi yang sebenarnya," kata Ferena.
Di luar produksi 'Fia Fairies' yang diikuti Ferena, SMK RUS juga membuka peluang bagi siswa lainnya, untuk terlibat dalam proyek produksi global. Sejumlah karya yang pernah dikerjakan siswa SMK RUS antara lain serial animasi Barbie, Unicorn World, Pororo, dan Cocomelon yang diproduksi untuk platform internasional seperti Disney Junior dan Netflix.
Salah satu karya siswa SMK RUS Kudus berjudul Unstring Your Heart, bahkan pernah menjadi nominasi dalam The 20th Kansas International Film Festival 2020.
Lebih lanjut, setelah lulus nanti, Ferena berencana untuk langsung terjun ke dunia kerja di industri kreatif. Setelah terlibat dalam proyek internasional, ia percaya diri memulai kariernya di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta.
"Niatnya untuk langsung kerja setelah lulus," sambungnya.
Karya Fashion Siswa SMK Juga Tembus Pasar Internasional
Selain animasi, Djarum Foundation juga bermitra dengan SMK lain di Kabupaten Kudus untuk mengembangkan SDM terampil, yang memiliki keahlian spesifik. Salah satunya, SMK NU Banat yang memiliki keunggulan di bidang desain busana.
Seperti siswa SMK Raden Umar Said, capaian membanggakan juga datang dari siswa SMK NU Banat Kudus ini. Dua siswi SMK tersebut, Amira Zenisbath dan Dayana Indra Utomo, turut merasakan pengalaman berkarya di lingkungan pembelajaran yang terhubung dengan industri.
Amira mengaku sudah menyukai dunia fashion sejak kecil. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk mendalami desain busana di sekolah tersebut.
"Saya memang dari kecil suka dunia fashion. Dulu juga pernah jadi model, jadi ingin lebih mengenal dunia fashion dan belajar membuat busana sendiri," kata Amira.
Di sekolah, para siswa tidak hanya belajar membuat desain, tetapi juga mempelajari tren yang diprediksi berkembang di masa depan.
"Kami diajarkan untuk membuat desain yang tidak hanya mengikuti tren sekarang, tapi juga tren yang akan datang," jelas Amira.
Ke depan, Amira berharap dapat mengembangkan usaha di bidang fashion dengan memanfaatkan keterampilan yang telah dipelajari di sekolah.
Sementara itu, Dayana juga memiliki harapan besar untuk menjadi desainer ternama dari Indonesia.
"Harapan saya setelah lulus bisa menjadi desainer yang dikenal luas," ujar Dayana.
SMK NU Banat sendiri memiliki brand hasil pembelajaran berbasis Teaching Factory bernama 'Zelmira' yang telah berhasil menembus pasar global. Karya para siswa bahkan telah dipamerkan dalam show di berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Italia, Paris, hingga Hong Kong.
Terbaru, para siswa juga tengah menjalin kerja sama dengan salah satu hotel mewah di Eropa untuk memproduksi produk fesyen bagi klien korporasi. Karya siswa SMK Nu Banat pun meraih apresiasi dari Menteri Perdagangan RI (Mendag) Budi Santoso (Busan).
Kunjungan Busan ke saat meninjau produk fashion 'Zelmira', produksi siswi SMK NU Banat Foto: Djarum Foundation |
Pada kunjungannya ke SMK NU Banat pada Kamis (12/3), Busan menyarankan agar produk fashion dari 'Zelmira' masuk ke dalam department store atau pusat perbelanjaan, khususnya di daerah Jakarta. Program Manager Djarum Foundation Galuh Paskamagma mengatakan, bantuan untuk membuka akses pasar ini ditawarkan oleh Kementerian Perdagangan. Nantinya, produk karya para siswa akan melewati sesi kurasi sebelum masuk ke dalam pasar.
"Jadi desain dari anak-anak SMK akan dikurasi. Kalau memang cocok dan bisa diterima oleh pasar, desain-desain itu akan masuk ke department store," kata Galuh.
Galuh menjelaskan Kemendag memiliki standar dalam menentukan hasil kurasi. Misalnya quality control (QC) dari segi jahitan, bahan, dan lainnya.
"Yang paling penting adalah, fashion items-nya bisa diterima oleh pasar. Jadi mereka (Kemendag) kayaknya punya aktivitas sendiri," kata Galuh.
Gunakan Pendekatan Teaching Factory
Galuh menjelaskan, berbagai capaian positif para siswa tersebut tidak muncul tiba-tiba, dan merupakan hasil dari proses panjang peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Selama 15 tahun, Djarum Foundation menjalin kemitraan dengan 20 SMK di Kabupaten Kudus untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program pengembangan.
Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah Teaching Factory, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan proses belajar dengan praktik kerja berbasis industri. Hasilnya, tiap SMK bisa memiliki produk usaha sendiri, sesuai keunggulan sekolahnya. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran berbasis Teaching Factory ini tidak hanya berfokus pada skill terkait produk yang dihasilkan, tetapi juga menumbuhkan mindset kewirausahaan.
Pembelajaran berbasis Teaching Factory di SMK RUS Kudus. Foto: Djarum Foundation |
"Selama sekolah, siswa dibiasakan mengerjakan proyek melalui pembelajaran berbasis Teaching Factory, mulai dari skala nasional hingga internasional. Ini memberi kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam pekerjaan dengan standar industri," ujar Galuh.
Melalui sistem ini, para siswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga membangun etos kerja profesional dan pola pikir wirausaha sejak dini. Dari 20 SMK mitra Djarum Foundation, sebanyak 10 sekolah telah memiliki Teaching Factory dengan produk yang diterima pasar.
Bahkan, beberapa di antaranya berhasil membukukan pendapatan lebih dari Rp 20 miliar setiap tahun.
Produk-produk tersebut juga dipasarkan melalui berbagai kanal, termasuk e-commerce seperti Blibli. Melalui pendekatan tersebut, para siswa vokasi tidak hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki peluang untuk menciptakan karya yang mampu bersaing di pasar global.
(anl/ega)Được in lại từ detik_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.



Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ