- Dolar turun jelang rapat bank sentral di tengah konflik Timur Tengah.
- Harga minyak naik, AUD & NZD menguat, yen tertekan.
- Perubahan kebijakan bank sentral diperkirakan terbatas; ekonomi China pulih.
Ipotnews - Dolar AS sedikit terkoreksi dari puncak 10 bulan, Senin, menandai awal pekan yang hati-hati di pasar keuangan global, karena investor bersiap menghadapi serangkaian rapat bank sentral di tengah konflik Amerika-Israel versus Iran.
Setidaknya delapan bank sentral, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England, dan Bank of Japan, dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan minggu ini, demikian laporan Reuters, di Singapura, Senin (16/3).
Fokus utama pasar adalah penilaian perumus kebijakan terkait dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Carol Kong, analis Commonwealth Bank of Australia, mengatakan, "Perang ini menghadirkan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi sekaligus risiko kenaikan inflasi, sehingga respons bank sentral akan sangat tergantung pada konteks terakhir, khususnya apakah inflasi berada di atas, sesuai, atau di bawah target."
Menjelang pertemuan tersebut, dolar kehilangan sebagian dari kenaikan kuat pekan lalu, sementara euro menguat 0,2% jadi USD1,1440 setelah sebelumnya menyentuh level terendah 7,5 bulan.
Poundsterling naik 0,23% ke posisi USD1,3253, meski masih dekat dengan level terendah 3,5 bulan yang dicapai pada Jumat, setelah mengalami penurunan mingguan 1,5%.
Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, sedikit turun ke posisi 100,29, setelah melonjak lebih dari 1,5% pekan lalu, tetap berada di dekat level tertinggi 10 bulan.
Presiden AS Donald Trump menyerukan bantuan sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz dan mengatakan pemerintahannya tengah berkoordinasi dengan tujuh negara terkait masalah ini.
Dalam wawancara terpisah dengan Financial Times , Trump memperingatkan bahwa NATO menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika sekutu gagal membantu membuka jalur perairan vital tersebut.
Namun, laporan Wall Street Journal menyebutkan pemerintah AS berencana mengumumkan minggu ini bahwa beberapa negara telah sepakat membentuk koalisi untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz.
Meski begitu, pasar tetap bergejolak, dan harga minyak terus meningkat karena ketegangan geopolitik yang tinggi dan ketidakpastian berakhirnya konflik yang kini memasuki minggu ketiga.
Jorry Noeddekaer, analis Polar Capital, menilai, "Kemungkinan terjadi perubahan nyata dalam arah kebijakan bank sentral di seluruh dunia saat ini, menurut pandangan kami, sangat terbatas." Pandangan dasar Polar Capital adalah perang ini kemungkinan relatif singkat.
Assie dan Yen Terdampak Perang
Dolar Australia melesat 0,43% ke USD0,7010, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga domestik karena Reserve Bank of Australia diperkirakan mengetatkan kebijakan, Selasa.
Pasar kini memperkirakan kemungkinan 72% RBA akan menaikkan suku bunga 25 basis poin.
Kong menambahkan, Australia kemungkinan akan melakukan dua kenaikan lagi, satu pekan ini dan satu lagi pada Mei, karena inflasi sudah tinggi sebelum konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi memperbesar risiko inflasi.
Sementara itu, yen Jepang berada di sekitar level 160 per dolar, terakhir tercatat 159,37.
Yen tertekan karena Jepang sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah, sehingga perang menimbulkan ketidakpastian bagi prospek kebijakan Bank of Japan.
Naomi Fink,analis Amova Asset Management, mengatakan, "Risiko utama bagi Jepang bukan sekadar kenaikan harga minyak, tetapi juga penurunan terms of trade akibat biaya energi dan logistik impor, diperparah pelemahan yen dan keterbatasan fleksibilitas kebijakan moneter."
Dolar Selandia Baru menguat 0,5% menjadi USD0,5805, sementara yuan di pasar onshore stabil karena investor menilai data ekonomi terbaru dan perundingan dagang AS-China yang sedang berlangsung.
Data terbaru menunjukkan ekonomi China memulai tahun ini dengan fondasi lebih kuat, dengan produksi pabrik meningkat, serta penjualan ritel dan investasi pulih pada periode Januari-Februari. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ