WIKA Ngaku Rugi Rp 1,8 Triliun Hampir Tiap Tahun Gara-gara Kereta Cepat

avatar
· Views 146
WIKA Ngaku Rugi Rp 1,8 Triliun Hampir Tiap Tahun Gara-gara Kereta Cepat
Foto: Muhammad Reevanza/detikFoto
Jakarta

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengungkapkan mengalami kerugian dari proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh sekitar Rp 1,7 triliun sampai Rp1,8 triliun.

Sebagai informasi, WIKA ikut menjadi pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium proyek KCIC. Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36%, PT Perkebunan Nusantara I 1,03%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08%.

Sementara, komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd yaitu CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian yang memang cukup besar, kalau tahun lalu, kalau tahun 2025 kalau nggak salah Rp 1,7 triliun atau Rp 1,8 triliun membukukan kerugian hampir setiap tahun segitu," ujar Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito di kantor proyek Tol Harbour Road (HBR) II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).

Baca juga: Viral Whoosh Berhenti Mendadak di Kopo Gara-gara Seng Masuk Rel

ADVERTISEMENT

Agung mengatakan dengan kerugian setiap tahunya tersebut sangat membebani kinerja keuangan Perseroan. Kerugian ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Perseroan untuk mencetak laba secara optimal.

"Sehingga memang cukup berat WIKA ini untuk bisa, apa namanya, mempunyai laba yang baik karena kerugian dari kereta cepat ini rata-rata per tahun Rp 1,8 triliun membukukan kerugian," katanya.

Agung menambahkan perseroan menginginkan untuk bisa melepas investasi di proyek kereta cepat tersebut. Harapannya kerugian tiap tahunnya bisa berkurang.

Namun, Agung mengakui proses tersebut tidaklah mudah. Sebab, keterlibatan WIKA dalam proyek ini tercantum dalam Peraturan Presiden.

"Sehingga tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat. Sehingga yang bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA yang memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ, ya. Tetapi ini tentu menjadi apa namanya domaindnya daripada government atau Danantara," ujarnya.

Terkait dengan klaim senilai Rp 5,02 triliun atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh, Agung mengatakan, proses media tersebut kini sedang berlangsung. Ditargetkan rampung tahun ini.

Proses klaim tersebut sudah sampai ke Pusat Arbitrase Internasional Singapura alias Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Namun karena adanya kesepakatan antara KCIC dan WIKA proses tersebut akhirnya tidak jadi dibawa ke sana.

"Atas kesepakatan antara WIKA dan KCIC, kita sedang di mediasi. Jadi sedang tahap proses mediasi yang sekarang sedang proses. Sehingga sementara untuk yang arbitrase ditunda dulu, sebisa mungkin pihak antara WIKA dan KCIC ini melalui mediasi yang ada di WIKA. Target penyelesaian sih tahun ini bisa selesai," katanya.

(hrp/hns)

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 0

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ

  • tradingContest