COO BPI Danantara Dony Oskaria buka suara soal PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang mengalami kerugian dari proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Setidaknya WIKA merugi Rp 1,7-1,8 triliun per tahun karena berpartisipasi pada proyek tersebut lewat PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
Dony mengungkapkan WIKA ke depannya tidak akan lagi terlibat dalam proyek kereta api. Sebab, bisnis tersebut memang tidak sesuai dengan bisnis utama WIKA sebagai kontraktor.
"Ya, itu salah satu contoh. Jadi kan yang lama kita bereskan. Jadi, mereka tidak akan lagi terlibat dalam kereta api, karena kan tidak inline dengan bisnisnya mereka kan," ungkap Dony ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bocoran soal Operator Kereta Cepat Bakal Diambil Alih Kemenkeu |
Namun dia mengakui untuk membuat WIKA terlepas dari proyek Kereta Cepat butuh waktu. Intinya semua hal sudah disiapkan dalam rencana beres-beres BUMN oleh pihaknya.
"Tapi memang penyelesaian itu kan seperti apa ... satu per satu, ya. Ini kita bereskan semuanya, kita rapihkan. Kita maunya semua yang kita kerjakan itu harus benar-benar tuntas. Nanti lihat ya, ini menyelesaikan tahap ini juga harus tuntas," ujar Dony.
Sebagai informasi, WIKA ikut menjadi pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium proyek KCIC. Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36%, PT Perkebunan Nusantara I 1,03%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08%.
Sementara, komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd yaitu CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito mengatakan pihaknya mengalami kerugian karena proyek tersebut sekitar Rp 1,7-1,8 triliun per tahun.
Agung mengatakan dengan kerugian setiap tahunya tersebut sangat membebani kinerja keuangan Perseroan. Kerugian ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Perseroan untuk mencetak laba secara optimal.
"Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian yang memang cukup besar, kalau tahun lalu, kalau tahun 2025 kalau nggak salah Rp 1,7 triliun atau Rp 1,8 triliun membukukan kerugian hampir setiap tahun segitu," ujar Agung Budi Waskito di kantor proyek Tol Harbour Road (HBR) II, Jakarta Utara, Senin (6/4) kemarin.
Agung menambahkan perseroan menginginkan untuk bisa melepas investasi di proyek kereta cepat tersebut. Harapannya kerugian tiap tahunnya bisa berkurang. Namun, dia mengakui proses tersebut tidaklah mudah. Sebab, keterlibatan WIKA dalam proyek ini tercantum dalam Peraturan Presiden.
"Sehingga tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat. Sehingga yang bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA yang memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ, ya. Tetapi ini tentu menjadi apa namanya domaindnya daripada government atau Danantara," jelas Agung.
Saksikan Live DetikSore :
Được in lại từ detik_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ