Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Tekanan Fiskal & Isu Independensi BI Jadi Sorotan Pasar

avatar
· Views 1,422
IDR

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah

Update Pasar & Insight Trading — Followme

Nilai tukar rupiah kembali menjadi pusat perhatian pasar setelah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (20/1). Rupiah sempat melemah hingga 16.988 per dolar AS secara intraday sebelum ditutup di 16.950, menandai tekanan yang semakin dalam sejak awal tahun. Pada Rabu (21/1) pagi, Rupiah dibuka di level 16.956.

Sepanjang 2026 berjalan, rupiah sudah melemah sekitar -1,5%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kelompok emerging markets. Tren ini bukan fenomena sesaat, karena sepanjang 2025 rupiah juga melemah -3,5%, bahkan ketika indeks dolar AS (DXY) justru turun tajam 9,4%.
Artinya, tekanan rupiah saat ini lebih banyak berasal dari faktor domestik dibandingkan global.

Isu Indepedensi Bank Sentral Kembali Membayangi
Sentimen negatif terhadap rupiah semakin menguat setelah muncul kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto menominasikan keponakannya, Thomas Djiwandono, yang juga menjabat Wakil Menteri Keuangan, sebagai salah satu calon Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Langkah ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi berkurangnya independensi bank sentral, terutama karena posisi tersebut akan menggantikan Deputi Gubernur BI Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026.
Kekhawatiran ini bukan hal baru. Sejak September 2025, wacana revisi regulasi sudah menimbulkan kegelisahan pasar, termasuk:
  • Rencana perluasan mandat BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
  • Usulan pemberian kewenangan kepada DPR untuk merekomendasikan pemberhentian Gubernur BI
  • Masuknya UU Keuangan Negara (yang mengatur batas defisit 3% PDB dan rasio utang 60% PDB) ke dalam daftar regulasi yang akan ditinjau ulang pada 2026
Bagi investor, isu-isu ini meningkatkan risk premium terhadap aset rupiah.

Defisit APBN 2025 Dekati Batas Legal

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi fiskal. Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% terhadap PDB, mendekati batas maksimum yang diizinkan undang-undang sebesar 3% PDB, dan lebih tinggi dari outlook sebelumnya di 2,78%.
Kondisi ini mempersempit ruang kebijakan, terutama di tengah:
  • Kebutuhan stimulus fiskal
  • Program belanja pemerintah yang agresif
  • Sensitivitas pasar terhadap stabilitas makro
Tak heran jika pasar menjadi lebih waspada terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia.

Respons Pemerintah dan Bank Indonesia

Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia menegaskan fokus utama tetap pada stabilisasi rupiah, dengan keputusan kebijakan moneter dijadwalkan diumumkan pada Rabu, 21 Januari 2026.

Sementara itu:
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan menekan BI untuk membiayai program pembangunan, serta menilai pelemahan rupiah masih relatif terkendali secara persentase.
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah tidak berencana menaikkan batas defisit APBN di atas 3% PDB.
Meski demikian, pasar tetap menuntut konsistensi kebijakan, bukan sekadar pernyataan.

Dampak ke Kebijakan Suku Bunga BI

Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi membatasi ruang penurunan suku bunga BI ke depan. Sebagai catatan, sepanjang 2025 BI telah memangkas suku bunga hingga 125 bps ke level 4,75%.
Konsensus Bloomberg saat ini masih memperkirakan:
  • 2 kali penurunan suku bunga (total -50 bps) sepanjang 2026
  • Namun, untuk Rapat Dewan Gubernur BI 21 Januari 2026, mayoritas pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan ditahan
Stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama dibandingkan stimulus moneter tambahan.

Kondisi Global: Safe Haven & Ketegangan Geopolitik

Dari sisi global, sentimen pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman:
  • Tarif terhadap negara yang berbisnis dengan Iran
  • Kenaikan tarif terhadap delapan negara Eropa terkait rencana pembelian Greenland
 
Situasi ini mendorong minat terhadap aset safe haven, tercermin dari:
  • Harga emas spot yang melonjak ke rekor baru di sekitar US$4.820/oz
  • Melemahnya indeks dolar AS ke bawah level 99
Namun, bagi rupiah, sentimen global positif ini belum cukup untuk menutupi tekanan domestik.

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Tekanan Fiskal & Isu Independensi BI Jadi Sorotan Pasar

Outlook: Peluang dan Risiko untuk Pasar Indonesia

World Bank merevisi naik outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% untuk 2025 - 2026, didukung stimulus fiskal dan investasi pemerintah. Revisi ini membuka peluang foreign inflow ke pasar saham, khususnya IHSG.
Namun, investor tetap perlu mencermati:
  • Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih
  • Ketahanan fiskal jangka menengah
  • Kredibilitas dan independensi kebijakan moneter

Kesimpulan untuk Trader
Rupiah masih rentan selama isu fiskal dan independensi BI belum mereda
BI cenderung bersikap hati-hati, menahan suku bunga dalam jangka pendek
Aset safe haven tetap menarik di tengah ketegangan global
IHSG berpotensi mendapat aliran dana asing, tetapi volatilitas tetap tinggi

Bagi trader, fase ini menuntut manajemen risiko yang ketat, disiplin terhadap level teknikal, dan sensitivitas tinggi terhadap berita kebijakan.

Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.
Trả lời 3
avatar
Bntr lagi beneran 17k 😱
avatar
parahh
avatar
JokoCFD99
@FajarSwing99
Kayanya bulan depan udh tembus 17K

-KẾT THÚC-

  • tradingContest