
Di tengah tekanan global yang belum reda, kabar dari Bank Indonesia justru memberi sinyal yang cukup menarik: ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh solid di 2026. Tapi di sisi lain, rupiah masih tertekan dan bahkan disebut undervalued.
Buat trader, ini bukan sekadar berita ekonomi, ini adalah sinyal peluang sekaligus warning.
Proyeksi Ekonomi 2026: Masih Kuat di Tengah Tekanan Global
Gubernur Perry Warjiyo menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Apa yang menopang angka ini?
- Konsumsi domestik kuat → daya beli masyarakat masih stabil
- Belanja pemerintah meningkat → THR, bansos, dan transfer daerah
- Investasi tetap jalan → terutama proyek prioritas nasional
- Momentum musiman → Ramadan & Idulfitri dorong aktivitas ekonomi
Sederhananya: meskipun dunia melambat, mesin ekonomi dalam negeri masih “hidup”.
Global Melambat, Tapi Indonesia Bertahan
Di sisi global, situasinya kurang ramah:
- Pertumbuhan ekonomi dunia turun ke sekitar 3%
- Inflasi global justru naik
- Kebijakan suku bunga tinggi cenderung bertahan (khususnya AS)
Artinya?
- Likuiditas global makin ketat
- Arus modal jadi lebih selektif
- Mata uang emerging market, termasuk rupiah, bisa tertekan
Rupiah Melemah, Tapi Dibilang “Undervalued”
Menariknya, Bank Indonesia menilai bahwa nilai tukar rupiah saat ini lebih lemah dari nilai fundamentalnya. Dengan posisi sekitar Rp17.140/USD, rupiah memang tertekan. Tapi menurut BI, secara fundamental seharusnya lebih kuat.
Kenapa bisa begitu?
- Kinerja ekonomi domestik masih solid
- Inflasi relatif terjaga
- Yield aset Indonesia cukup menarik
- Tapi… tekanan eksternal besar:
- Konflik geopolitik (Iran, Timur Tengah)
- Harga minyak naik
- Dolar AS menguat
- Yield obligasi AS tinggi
➡️ Jadi ini bukan masalah “dalam negeri lemah”, tapi lebih ke tekanan global.
Langkah BI: Jaga Stabilitas, Tarik Modal
Untuk menjaga rupiah tetap stabil, Bank Indonesia melakukan beberapa langkah:
- Intervensi pasar (spot, DNDF, offshore NDF)
- Menjaga cadangan devisa (~USD 148 miliar)
- Menyesuaikan suku bunga instrumen (SRBI)
- Menjaga likuiditas tetap cukup (M0 tumbuh >10%)
Tujuannya jelas:
- Menahan volatilitas
- Menarik kembali aliran modal asing
- Menjaga kepercayaan pasar
Faktor Eksternal: Selat Hormuz & Harga Minyak
Dari sisi geopolitik, situasi juga belum stabil. 2 kapal milik Pertamina International Shipping masih tertahan di kawasan Selat Hormuz akibat ketegangan regional.
Kenapa ini penting buat trader?
- Selat Hormuz = jalur utama distribusi minyak dunia
- Gangguan = potensi lonjakan harga minyak
- Dampak lanjutan:
- Inflasi naik
- Tekanan ke rupiah
- Volatilitas meningkat di market
Insight Penting Buat Trader Forex
Dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa kamu tarik sebagai trader:
1. Rupiah Lemah ≠ Ekonomi Lemah
Kadang market bergerak bukan karena fundamental domestik, tapi karena global flow. Ini penting buat yang trading USD/IDR atau pair terkait risk sentiment.
2. Perhatikan Suku Bunga Global (Terutama The Fed)
Selama suku bunga AS tinggi, maka USD cenderung kuat dan emerging currencies cenderung tertekan
3. Geopolitik = Volatilitas Instan
Konflik seperti di Timur Tengah bisa:
- Buat harga minyak terus naik
- Tekan mata uang
- Picu risk-off sentiment
Ini sering jadi peluang trading jangka pendek.
Kesimpulan
Ekonomi Indonesia di 2026 diprediksi tetap kuat, tapi tekanan global masih jadi faktor utama yang memengaruhi market.
- Growth stabil → positif jangka menengah
- Rupiah undervalued → potensi rebound, tapi butuh katalis
- Global risk tinggi → volatilitas tetap besar
Di kondisi market kayak sekarang (global pressure + geopolitik + kebijakan bank sentral), trading sendirian bisa jadi risky. Makanya banyak trader sekarang mulai:
- Belajar dari trader yang sudah survive di market volatile
- Lihat bagaimana mereka handle kondisi kayak sekarang
- Copy strategi trader lain
Dan kabar baiknya, semua itu bisa kamu lakukan di Followme. Kamu gak perlu lagi trial & error sendirian, cukup amati, pelajari, dan ikuti strategi trader yang sudah terbukti perform di kondisi market nyata!
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

-KẾT THÚC-